Rabu, 18 Desember 2013

Kisah Metode Maryam dalam Menghafal Al Qur’an

Bismillaah,
Tulisan ini merupakan sharing Keluarga Abu wal Ummu Maryam dalam meningkatkan hafalan Alqur'an anak-anak mereka khususnya Maryam yang ketika berusia 9 tahun sudah hafal 10 juz Al-Qur'an, begitu juga anak-anak mereka yang lain.

Semoga catatan (yang saya susun berdasarkan sharing Abu Maryam di milis sunnihomeschooling -dan alhamdulillah sudah  di izinkan beliau untuk dipublikasikan), menjadi motivasi para orang tua dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas hafalan anak-anaknya.

Bismillah,
Awalnya adalah pemantapan baca al qur-an dengan menggunakan buku Iqra karya As'ad Humam. Ketika Maryam usia tiga setengah tahun mulai belajar iqra 1.

Pada usia itu Maryam sudah tercatat sebagai siswa TK Al Hanif karena Ummu Maryam mengajar disitu. Namun sesuai dengan usianya waktu itu, Maryam gampang sekali berubah atau turun naik mood belajarnya. Tidak jarang Maryam tidak belajar namun...tidur... atau harus digendong dibawa masuk oleh ustadzahnya untuk belajar. Yang saya ingat dan saya lihat sendiri Ammah Halimah waktu itu harus menggendong Maryam dari luar kelas untuk belajar karena anak seusia Maryam belum bisa duduk tenang dan manis. Dalam catatan laporan perkembangan belajar Al Qur-an atau Iqra tidak jarang ustadzahnya menulis: Maryam tidur. 

Namun Alhamdulillah sebelum lulus TK B, kira-kira usia 5 tahun, Maryam sudah selesai Iqra 6 dan lancar membaca Al Qur-an sekaligus lancar membaca huruf latin dengan menggunakan buku As'ad Humam juga....

Pada usia 5 tahun 5 bulan Maryam mulai menjalani HS majemuk setelah sebelumnya saya mempresentasikan konsep HS ke Salafiyyun Cilegon di tahun 2006. Dalam presentasi tersebut saya ditanya oleh peserta seminar tentang langkah kongkret apa yang akan antum lakukan, maka alhamdulillah saya jawab, "Saya akan jadikan anak saya 'Maryam percobaan' " 

Pada usia segitu Maryampun belum stabil emosinya, dan masih sulit ditinggal umminya jika belajar. Menghadapi hal demikian kami Abi dan Umminya tidak menuntut terlalu banyak dari Maryam. Maryam belajar menghafal dari Ammah Eya ( Ustadzah Rubeya Litiloly ) pada awalnya Maryam dibebankan hafalan 2.5 baris (bukan ayat) dengan menggunakan mushaf cetakan Madinah yang diatur sedemikian rupa sehingga satu juz terdiri dari 10 lembar atau 20 halaman. Hal ini untuk memudahkan penghafal qur-an sehingga ada standarisasi dalam menentukan jumlah baris yang dihafal. Namun perlu diketahui bahwa bukan hanya mushaf cetakan Madinah saja yang memiliki karakteristik demikian. Percetakan dari Beirut atau cetakan GIP Indonesia atau cetakan Darus Sunnah juga memiliki karakteristik sama. Seiring berjalannya waktu Maryam sanggup menghafal 5 bahkan 10 baris (dalam satu halaman terdapat 15 baris) ketika akhir kelas 1 Maryam sudah hafal 2 juz, 29 dan 30.

Adapun adiknya Maryam, Fathimah, kemampuan menghafalnya sedikit di atas maryam dan segala puji bagi Allah. Metodenya sama dengan yang diterapkan Maryam. Kami katakan kemampuannya sedikit di atas Maryam karena selesai kelas satu, Fathimah sudah masuk hafalan juz 28. Sekarang Fathimah kelas 3 sudah hafal 7 juz dan di rumah dibantu oleh Ummu Maryam untuk muroja'ah, memperbaiki bacaan serta menambah hafalan. 

Maryam dan Fathimah memiliki karakter yang sangat berbeda. Maryam lebih ekstrovert dan mudah bergaul adapun Fathimah pemalu dan pendiam.

Putri ketiga kami Khodijah agak berbeda dengan kedua kakaknya. Sekarang kelas 1 usia 6 tahun belum selesai menghafal juz 30. Kami juga tidak menuntut Khodijah untuk sama seperti kedua kakaknya dalam masalah menghafal Qur-an, karena kemampuan setiap orang berbeda-beda. Adapun metode yang dijalankan sama seperti kedua kakaknya.

Khodijah juga memiliki karakter khas dibandingkan saudara-saudaranya. Khodijah lebih ekstrovert daripada Maryam dan dia selalu memancing gelak tawa saudara-saudara dan Abi Umminya dengan celetukan polosnya.

Putra keempat Abdurrohman, usia 5 tahun baru masuk Iqra 2 dan baru hafal al ikhlash, al falaq dan an naas. Dan kami senantiasa memohon pertolongan Allah karena kami melihat karakter Abdurrohman yang sedikit agak "keras". Mungkin karena dia laki-laki dan ini adalah pengalaman pertama kami mendidik anak laki-laki. Allahul Musta'an

Putri kelima kami, Asiyah baru satu tahun...

Ada hal yang kami senantiasa ingatkan kepada Maryam dan juga kami sekeluarga yaitu masalah pengamalan praktis Al Qur-an dalam kehidupan sehari-hari. Saya sering ingatkan bahwa akhlak rasulullah shallallahu alahi wa sallam adalah Al Qur-an jadi kita harus memiliki akhlak yang baik. Dengan demikian diharapkan mereka sadar bahwa yang terpenting dari Ilmu itu adalah amal dan bukan sekedar dihafal. Itulah bahasa yang saya gunakan untuk memberikan penjelasan tentang pentinganya amal.

Maryam telah hafal 10 juz ketika usia 9 tahun. Dengan beberapa pertimbangan Maryam tidak menambah hafalan setelah hafal 10 juz dengan benar. Nanti setelah hafalannya benar benar mutqin, demikian istilahnya, akan ditambah. Pada kelas 6 mungkin akan ditambah. Awalnya kami memang mentargetkan 10 juz dalam waktu 6 tahun (kelas 1-6) namun Maryam dianugerahi kelebihan alhamdulillah sehingga kelas 4 sudah mencapai target 10 Juz.
----------------------------------------------------------
Di bawah ini merupakan catatan Maryam tentang metode-nya dalam menghafal Al-Qur'an
----------------------------------------------------------
Pengalamanku Menghafal Al-Qur'an

Nama saya Maryam umur 10 tahun. Saya akan menceritakan pengalamanku menghafal al-qur'an. Menghafal
al-qur'an itu sangat menyenangkan dan mendapat pahala dari Alloh. Selain mendapat pahala dari Alloh, al-qur'an adalah sumber kebahagiaan hidup.
Saya akan menceritakan cara mudah menghafal Al-qur'an di sekolah, waktu menghafal dari jam 7.00-9.20. Pertama-tama aku didengarkan dulu bacaannya sama ustadzah sebanyak 1 halaman, setelah benar bacaannya aku dilepas untuk menghafal sendiri. Sambil menunggu aku menghafal, ustadzah menyimak teman-temanku yang lain. Setelah aku hafal, aku setor ke ustadzah. Kalau lancar 1halaman aku diberi nilai 90. Setelah itu aku murojaah yaitu mengulang hafalan yang sudah dihafal sebanyak 5 halaman.

Nah...pada hari Jum'at aku ada kegiatan mondok yaitu menginap di sekolah selama 1hari Jum'at malam Sabtu. Kalau hari Jum'at menghafal hadits arbain dan ushul tsalatsah bersama terjemahannya. Alhamdulillah aku telah menyelesaikan hafalan ushul tsalatsah dan terjemahannya, hadits arbain an Nawawi, Al-Qur'an sebanyak 10 juz. Pada jum’at sorenya jam 4.00-5.00 hafalanku dari hari Senin-Kamis dimantapkan kembali oleh ustadzah. Oh ya aku diberi tugas di rumah untuk menyiapkan hafalan besoknya, aku dibimbing oleh umi. Kadang-kadang sambil di omel-omelin sama umi, tetapi aku harus tetap semangat menghafal Al-Qur'an. 

Inilah sedikit sharing dariku, semoga bermanfaat bagi ami dan ammah sekalian dan teman-teman semuanya.
Maryam

Copas From : Generasi Qur’ani
sumver gambar ; www.islampos.com 

2 komentar :

  1. Subhanallah...semoga kita selaku perempuan dapat mendidik anak kita kelak, mengantarkan mereka dan keluarga pada jannah nya Allah SWT. Doakan ya mak, biar bisa mendidik anak menjadi calon hafidz/ hafidzah. makasih juga mba artikelnya :D

    BalasHapus

Syukron telah membaca postingan kami, silahkan meninggalkan komentar ^_^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...