Rabu, 31 Desember 2014

Apa di 2015?

Tak terasa memasuki penghujung tahun 2014, walaupun kedudukannya tetap sama dengan hari-hari yang lain, hanya saja penghujung tahun seperti ini salah satu moment yang tepat dalam mengatur rencana setahun ke depan.

Sebagai ibu rumah tangga, tentu saya tidak ingin ketinggalan. Pekerjaan sebagai ibu tak ubahnya selaku seorang manager. Tidak tanggung-tanggung, mulai manager keuangan keluarga, manager pendidikan anak, manager pengelolaan rumah tangga, dan yang paling penting yakni sebagai manager konsumsi hehe...

Kalau dipikir-pikir tanggung jawab seorang ibu itu memang tidak sedikit, dan untuk memaksimalkan kinerja tentu harus ada perencanaan yang matang dan sistem managerial yang rapi. Jadi tidak hanya ada Blogger professional, writer professional… menjadi seorang ibu juga butuh profesionalisme. Isn’t it?

Oleh karena itu, menjelang tahun 2015 ini perlu perencanaan, program-program besar apa yang hendak dicapai selama satu tahun ke depan. Perencanaan itu perlu, kata bunda Septi Peni Wulandari dalam setiap perkuliahan online yang sempat saya ikuti. Bahwa tugas kita hanya merencanakan secara maksimal, dan kita serahkan “penghapus”nya ke Allah. Prinsip tawakkal tentu tetap dipegang teguh, yang perlu mendapat perhatian ekstra yakni pada proses, sudahkah kita berusaha maksimal? Urusan hasil kita serahkan sepenuhnya ke Allah.

Apa rencanaku di tahun 2015?

Manajemen Waktu

Terus terang saya termasuk lemah dalam hal yang satu ini. Mungkin karena saya tidak terbiasakan sedari kecil untuk mengatur manajemen waktu dengan rapi. Semua dibiarkan mengalir seperti air, istilahnya jalani saja. Tapi tentu itu bukan sesuatu yang baik. Di tahun ini alhamdulillah cukup tercerahkan dengan beberapa materi tentang manajemen waktu, sedikit demi sedikit mulai dijalankan tapi belum mampu untuk komitmen sepenuhnya. Di 2015 harus mampu lebih baik lagi, menata  waktu dengan lebih rapi dan mempermantap komitmen.

Menyelesaikan hafalan juz 29

Ini salah satu target penting yang hendak dicapai di tahun depan. Sangat terasa kualitas hafalan saat usia  sekarang dengan usia sewaktu masih berada di bawah 30-an tahun. Mudah singgahnya tapi juga mudah perginya. Khususnya untuk hafalan Al-Qur’an. Maklum saja, semangat menghafal Al-Qur’an terasa menggebu justru saat usia berada di usia di atas 20 tahun. Oleh karena itu, jangan sia-siakan usia muda terutama masa kanak-kanak dalam hal menghapal Al-Qur’an, karena memang diakui pada masa-masa tersebut merupakan masa-masa emas dalam menghafal.
Namun selalu tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Semoga dimudahkan.

Membimbing Abdullah dan Aisyah khatam Al-Qur’an

Selama ini memang saya tidak pernah menargetkan bacaan Al-Qur’an untuk anak-anak, prinsip saya walaupun sedikit yang penting konsisten. Tapi setelah merenung kembali, target itu perlu namun tetap disesuaikan dengan kemampuan anak-anak. Apalagi saat ini tinggal melanjutkan bacaan mereka.insya Allah 2015 khatam.

Konsisten nge-blog

Bisa dikatakan, aktif  kembali di dunia blog baru tahun ini. Bergabung dengan group emak-emak blogger yang keren betul-betul menambah motivasi untuk lebih konsisten dalam mengelola blog.
Minimal bisa menambah postingan dua kali dalam sepekan. Aaamiiin, semoga istiqomah bersama www.pondokummi.com

Membuat strategi marketing serta merapikan manajemen Lianra Shop

Mengelola sebuah online shop tentu tidak maksimal jika membiarkannya mengalir begitu saja, tanpa perencanaan, tanpa strategi. Salah satu mimpi yang ingin kuwujudkan, suatu saat Lianra Shop akan menjadi besar. Insya Allah di tahun 2015, harapannya bisa membuat strategi marketing yang lebih baik dan lebih merapikan sistem manajemen pengelolaan Lianra Shop

Belajar dan belajar

Banyak rencana program berlajar di tahun depan insya Allah. Belajar bahasa Arab dan Ilmu Islam secara lebih formal, melanjutkan kuliah ibu professional, program Bahasa Arab online, tahsin dan lainnya.
Alhamdulillah masih diberi kekuatan untuk merasakan nikmatnya menuntut ilmu. Dan tidak lupa ,tiada hari tanpa membaca, walau 1 halaman dalam sehari.

===

Rencana tahun depan sebagiannya hanya merupakan lanjutan dari apa yang sudah dijalani di tahun ini. Namun memang diakui, semua terasa berjalan belum maksimal. Dan berharap di tahun depan, semua tidak lagi berjalan setengah-setengah. Sesuatu yang nampak kecil jika dilaksanakan secara maksimal insya Allah akan menghasilkan hasil yang lebih baik. Mudah-mudahan akan berbuah hal-hal besar yang akan menjadi kejutan di tahun yang sama.

Amin, Ya Rabb..



Selasa, 30 Desember 2014

Asyiknya belajar bahasa Arab via WhatsApp

Awalnya tanpa sengaja melihat status teman facebook  yang berbagi informasi tentang program bahasa Arab online yaitu program BISA (Belajar Islam dan Bahasa Arab).

Uniknya pembelajarannya melalui aplikasi messenger Whatsapp. Dari dulu saya selalu bersemangat untuk mengikuti program bahasa Arab, namun qadarullah akhirnya selalu berhenti di tengah jalan, dan dengan adanya informasi ini, asa itu kembali muncul.

Setelah membaca informasinya dengan teliti, saya berniat untuk mendaftarkan diri sekaligus menginformasikan ke teman-teman yang lain tentang hal ini, siapa tahu ada yang berniat untuk ikut juga.

Saat itu, saya tidak serta merta langsung mendaftar karena berpikir waktunya masih lama, tapi karena kelamaan menunda akhirnya kelupaan dan baru teringat saat saya mampir ke fan page nya ternyata peserta sudah memenuhi  quota.
Meskipun demikian, saya tetap saja mendaftarkan diri. Pikirku, kali-kali saja masih ada kesempatan. Walaupun memang saya sudah tidak terlalu berharap.

Kira-kira sebulan setelahnya, saat saya sudah tidak terpikirkan mengenai pendaftaran itu, ternyata tiba-tiba saat mengecek whatsapp ternyata saya sudah tergabung di group kelas BISA. “Alhamdulillah keterima” pikirku saat itu.
Belakangan baru terpikirkan kalau saya kemungkinan terdaftar di angkatan selanjutnya karena ternyata setiap selesai angkatan yang berjalan, maka akan dibuka kelas baru untuk angkatan selanjutnya.



Di program BISA ini, setiap angkatan terdiri dari beberapa kelas ikhwan dan akhawat (baca: lelaki dan perempuan). Di setiap kelas terdiri dari kurang lebih 30 peserta yang didampingi oleh dua atau lebih muraqibah (pembimbing) dan musyrifah (pendamping/pengawas) kelas.

Setiap pekannya berjalan cukup padat dan ketat. Dimulai dari pemberian soal pemanasan yang nantinya diikuti dengan pembagian rekaman audio untuk materi pekan berjalan setiap sabtu, mengikuti kelas diskusi setiap ahad sore (wajib absen), ada selingan KUBIS (Kuis BISA) di setiap hari Senin dan Kamis malam, serta tugas hafalan dan tulisan yang harus dikumpulkan paling lambat setiap jum’at Sore, toleransi waktu hingga tengah malam dengan konsekuensi potongan nilai 20%. Begitu seterusnya…

Seru…santai tapi serius, sok sibuk mewarnai hari-hariku di program BISA. Emak-emak beranak tiga yang biasanya hanya mengurusi urusan rumah tangga, diselingi dengan kegiatan online shop tiba-tiba serasa jadi anak kuliahan kembali..hehe..sibuk dengan seabrek tugas di setiap pekannya.
Alhamdulillah, suami mendukung kegiatan ini… sesekali membentu menghandle anak-anak, saat harus mengerjakan tugas yang sudah mendekati deadline.
Lebih seru lagi saat menjalani ujian akhir program, stand by selama 3 jam mengerjakan ujian tulis dilanjut dengan ujian hafalan…

Sebagai kesimpulan, program ini memiliki beberapa kelebihan :
  • Pembelajaran tidak perlu dilakukan di luar rumah, sangat cocok dengan emak-emak rempong macam saya yang agak kesulitan dengan masalah transportasi
  • Aturan Drop Out (DO) lumayan ketat. Dua kali tidak mengerjakan tugas berturut-turut atau 3 kali tidak berturut-turut akan otomatis DO. Dengan catatan, satu nomor terhitung satu tugas, dan setiap pekan terdiri dari minimal 2 soal. Dengan begitu, walaupun santai karena semua dikerjakan di rumah tapi tetap dituntut untuk serius
  • Ada program-program lanjutan dengan program BISA sebagai pintunya. Alhamdulillah sekarang masih sementara mengikuti program lanjutan JODOH (Just One Day One Hadits). Program sederhana namun luar biasa menurutku dalam sebuah system menghafal hadits. Insya Allah di kesempatan selanjutnya saya akan mencoba menuliskan testimoninya.
  •  Ada sertifikat online yang diberikan setelah menyelesaikan program secara keseluruhan


Apa hasil yang didapatkan?

Alhamdulillah, setelah mengikuti program ini banyak tambahan ilmu yang saya dapatkan.
  1.  Jadi tahu definisi sharaf, tashrif, wazan mauzun dan lainnya
  2. Jadi bisa membedakan antara hamzah washl (ا) dan hamzah qatha’ (أ)  Jadi ngerti buka kamus bahasa Arab. Jujur saja sebelumnya masih bingung, maklum masih pemula hehe..
  3. Jadi sedikit paham penggunaan kata kerja sesuai subjeknya. Khususnya penggunaan kata kerja dalam Al-Qur’an
  4. Lebih memahami ciri-ciri isim, fi’il dan huruf, serta ilmu baru lainnya tentang ilmu sharaf
  5. Bisa bersilaturrahim dengan orang-orang baru, bukan hanya di Indonesia tapi juga yang saat ini berdomisili di luar negeri. Misalnya Jepang dan Australia
  6. Semakin penasaran dengan bahasa Arab 

Yang jelas, Program BISA ini merupakan terobosan yang sangat menarik bagi yang ingin belajar bahasa Arab tapi memiliki kesibukan yang cukup padat atau kendala lainnya sehingga sulit untuk mengikuti kuliah tatap muka, seperti saya contohnya.

Walaupun keinginan sampai saat ini saya masih berharap bisa mengikuti pelajaran tatap muka alias kuliah, tapi  setidaknya cukuplah sekedar untuk pelepas dahaga.

Alhamdulillah, setiap bulannya program bisa membuka angkatan baru, saat ini sudah berjalan pembelajaran untuk angkatan 10, saya sendiri merupakan alumni angkatan 5. Untuk informasi selanjutnya silahkan mengunjungi website www.programbisa.com atau mengunjungi fan page facebook http://facebook.com/programbisa

Selamat bergabung, dan rasakan manfaatnya!! ^_^






Minggu, 28 Desember 2014

Lemari dari kardus bekas

Asyik berselancar di dunia maya, tanpa sengaja berkunjung ke sebuah postingan tentang prakarya dari barang-barang bekas, menarik dan saya terinspirasi. Tanpa berpikir panjang saya langsung menuju ke ruang belajar anak-anak, di situ ada beberapa kardus bekas. Setelah menrenung sejenak, “Bikin apa ya?”. Akhirnya saya berpikir untuk membuat lemari sederhana, lumayanlah sebagai wadah untuk menaruh barang-barang kecil di sekitar rak buku yang terbuat dari papan dengan siku sebagai penyanggahnya.

Singkat cerita, kardus yang saya pilih untuk membuat prakarya ini adalah dua kardus susu ultra, saya sudah membayangkan akan membuat lemari dua pintu (kiri dan kanan) dengan menyatukan kedua kardus yang tadinya terpisah.
Sebagai rak sisi dalam lemari tentu saya butuh bantuan potongan kardus di luar kedua dus tadi.

Pilihan kardus yang akan di make over :)
Berikut step by step proses pembuatannya.

Bahan :
2 buah kardus
2 buah Kertas kado
Karton jilid berwarna biru
2 buah tutup botol pocary sweat
Kain kasa (bisa diganti dengan kapas, dakron, ataupun perca kain, kebetulan kasa bulat yang ada saat itu hehe

Alat :
Gunting
Cutter
Plester
Penggaris
Lem Castol
Klip
Pensil/pulpen/spidol

Alat dan bahan

Cara membuat :

  • Menyatukan kedua sisi kardus dengan klip dan plester.
  • Membuat rak sisi dalam lemari dari kardus  berbeda yang ukurannya disesuaikan dengan panjang dan lebar kardus setelah disatukan. Mengukurnya tentu dengan bantuan pensil dan penggaris.


  • Mulai membungkus sisi-sisi kardus dengan kertas kado, hingga hampir seluruh permukaan luar kardus tertutupi kecuali di bagian belakang karena nantinya tidak akan nampak dari depan. Sebaiknya tetap teliti dalam pengukuran agar hasilnya maksimal. Perekatannya menggunakan bantuan lem castol.
  • Karton jilid digunakan hanya sebagai variasi motif.
  • Hiasan pada sisi pintu berasal dari guntingan motif pada kartu undangan pernikahan hehe…
  • Untuk gagang pintu, saya menggunakan tutup botol pocary sweat. Dengan terlebih dahulu membungkus kain kasa dengan potongan kertas kado yang semotif dengan lemari, lalu memasukkannya ke dalam tutup botol yang terlebih dahulu diolesi dengan lem castol agar merekat.
Bahan membuat gagang pintu
Aisyah yang juga ikut membantu











PR terakhir yang membutuhkan jeda waktu beberapa hari yakni ide agar pintunya tertutup alias membuat kunci dari lemarinya dan itu saya serahkan pada suami. Akhirnya beliau mendapatkan ide membuat kunci lemari dari kancing baju.

Kebetulan beliau mempunyai jaket yang tidak layak pakai, tiba-tiba kepikiran menjadikan kancing lengan jaketnya sebagai kuncinya. Alhamdulillah. Ternyata ada juga hikmahnya memilah baju dan jaket yang sudah tidak layak pakai, padahal sebelumnya tidak kepikiran sampai ke arah sana.



So… jadilah prakarya lemari sederhana dan alhamdulillah sudah kami manfaatkan. Insya Allah bukan sesuatu yang sulit, dan saya yakin banyak yang mampu membuat seperti ini bahkan membuat yang jauh lebih bagus. Kami hanya ingin berbagi… ~senyum~




Selasa, 23 Desember 2014

Hikmah makan bersama


Masih tersimpan di ingatan ketika bapak akan sangat marah jika kami anak-anaknya lebih memilih untuk makan di depan televisi atau di ruang lainnya daripada berkumpul di depan meja makan. Beliau menginginkan kami anak-anaknya makan di depan meja makan di saat kami semua berkumpul di rumah, dan seringnya pada moment makan malam karena pada saat itu anggota keluarga tidak dalam aktifitas di luar rumah.

Sewaktu itu kami merasa hal itu berlebihan (maklum masih remaja), terserah kita kan ya mau makan dimana, pikir kami saat itu. Ternyata hal itu baru terasa ketika saya sudah menikah. Setelah menikah, boleh dikatakan kami (saya dan suami, karena waktu itu belum ada anak-anak) bisa makan apa saja, makanan yang menurut kami makanan spesial sewaktu di rumah masing-masing (ayam, udang, kepiting, dll) sangat mudah kami nikmati. Tapi saya merasa heran, kok terasa ada yang hilang ya?? Padahal cara masak dan bumbunya sama. Lagi pula sebelum menikah saya yang paling sering membantu ibu di dapur.

Setelah merenung, ternyata saya menemukan jawabannya. Dan jawabannya adalah moment “makan bersama”lah yang membuat makanan yang ada terasa lebih nikmat.

Makanan waktu itu memang bisa dikatakan apa adanya, tidak ada yang istimewa dalam tiap menunya, hanya menu keseharian, sayur, ikan “pa’lu mara” (ikan khas bugis Makassar yang dimasak dengan kunyit asam), satu telur dadar dibagi rata, setiap orang mendapat jatah yang sama tiap irisnya karena saya bersaudara berjumlah delapan orang (bisa dibayangkan kan ramenya..hehe), kalau tidak dibagi salah satunya akan protes dan bisa membuat suasana makan akan sangat gaduh.

Begitu juga jika ibu dan bapak yang kebetulan mereka membuka usaha warung makan di salah satu universitas swasta di Makassar dan  salah satu menunya adalah bakso, membawa sisa bakso setiap hari sabtu malam karena besoknya libur hari Ahad. Beberapa biji bakso yang juga harus terbagi rata dan seperti biasa sayalah yang menjadi petugas pembagi. Kalau saya ingat-ingat, setiap anak seringnya mendapatkan satu setengah biji bakso…hehe

Moment sederhana tapi takkan terlupa, dengan moment tersebut secara tidak sadar menumbuhkan rasa kebersamaan antar anggota keluarga dan menjadikan kami cenderung terbiasa untuk berbagi… kalaupun pada siang hari kami tidak bersamaan berada di rumah yang otomatis tidak dalam waktu bersamaan untuk menikmati makan siang, tapi yang di depan tidak akan melupakan yang di belakang, selalu ada jatah untuk yang makan belakangan.

Oleh karena itu, kami ingin kebersamaan itu ingin tertularkan kepada anak-anak. Kami membiasakan anak-anak untuk makan bersama. Biarkan mereka merasakan nikmat dan hikmah berkumpul di depan meja makan, makan sambil berbincang diselingi tawa canda di sela-sela santapan. Bahkan ada salah diantara keluarga yang  memanfaatkan moment makan bersama sebagai sarana berkumpul dan mendelegasikan tugas pada anggota keluarga, istilahnya musyawarah santai keluarga.

Moment makan bersama, tidak hanya saya rasakan di keluarga. Salah satu moment tak terlupa sewaktu menjalani masa-masa kuliah. Saya dan teman-teman lintas fakultas di salah satu universitas negeri di Makassar yang tergabung dalam organisasi dakwah kampus, sering menghabiskan waktu di sela-sela jeda perkuliahan di salah satu mushalla, dengan sekretariat kecil di sampingnya. Salah satu moment kebersamaan tadi yakni terkadang patungan membeli nasi bungkus yang seporsinya cukup besar. Satu nasi bungkus terkadang dinikmati sampai 5 orang atau lebih. Jika dibagi perorang tentu nasi tersebut porsinya sangat kurang, tapi herannya kami selalu merasa kekenyangan. Berkah makan bersama ^_^

Dari Wahsyi bin harb, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya para sahabat Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tapi tidak merasa kenyang?", Beliau bersabda, "Mungkin karena kalian makan secara terpisah-pisah (sendiri-sendiri)?". Mereka menjawab, "Ya benar". beliau bersabda, "Hendaklah kalian bersama-sama ketika makan, dan sebutlah nama Allah atasnya maka kalian akan mendapat berkah padanya". (H.R Abu Daud: 3764, Ibnu Majah: 3286, Ahmad: III/501, Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Berkata syaikh Al-Albaniy: hasan)


Dalam hadits yang lain, dari Jabir, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Makanan untuk seseorang cukup untuk dua orang, makanan untuk berdua cukup untuk berempat dan makanan untuk berempat cukup untuk berdelapan orang”. (HR. Muslim:2059)

Sumber gambar : http://www.barnabasoley.cambs.sch.uk



Minggu, 21 Desember 2014

Jangan ambil punyaku!

Bulan ini, usia Khadijah memasuki satu tahun sepuluh bulan. Alhamdulillah dari sisi perkembangan sudah banyak peningkatan baik verbal maupun motorik, kosakatanya juga semakin banyak. Salah satunya masalah kepemilikan, dia sudah bisa membedakan mana barang-barang miliknya, mana yang bukan.

My Little Khadijah
Barang miliknya yang sangat dia sayangi adalah bantal dan gulingnya yang berwarna pink. Padahal, bantal dan guling tersebut dulunya adalah milik kakaknya Aisyah. Jangan coba-coba meniduri atau menggunakan bantal dan guling miliknya… dia akan berteriak sambil meringis mengatakan “anta” (bantal) atau “guying” (bantal guling). Seakan-akan dia ingin mengatakan “Jangan ganggu punyaku!” hehe.

Bantal dan guling kesayangannya :)
Bukan hanya itu, dia akan protes kalau pada saat dia ingin tidur bantalnya dalam posisi bagian bawah yang di posisi atas, segera dia akan membetulkan posisinya. Namun yang lebih membuatku sedikit surprise ketika dia juga akan protes jika tulisan pada bantal tersebut posisinya terbalik. Saya juga baru tahu sewaktu menaruh bantalnya di samping saya ketika hendak menyusuinya, saya heran kok dia masih bermaksud membenarkan posisi bantalnya padahal posisi atasnya sudah tepat. Ternyata dia membenarkan posisi batal sesuai dengan posisi tulisannya. Ckck…

Khadijah… khadijah ternyata dia memperhatikan sampai sedetil itu. ~senyum~

Jangan sampai posisinya seperti ini
atau seperti ini
Posisi tepatnya harus seperti ini :)

Kamis, 18 Desember 2014

Download: Do'a dan dzikir setelah sholat


Alhamdulillah, selesai juga bacaan do’a dan dzikir setelah sholat saya buatkan untuk anak-anak. Sedari dulu saya memang ingin membuatkan khusus untuk mereka yang nantinya akan ditempelkan di dinding tempat mereka biasanya melaksanakan shalat. Harapannya, dengan sering membaca insya Allah lama-lama juga akan menghafalkannya.

Bacaan do’a dan dzikir ini saya ketikkan di Microsoft Word dengan format yang sangat sederhana yang kemudian selanjutnya saya ubah dalam bentuk PDF, berisi 7 do’a dan dzikir setelah shalat. Bacaan tersebut kemudian diprint di atas karton jilid, melaminating dengan plester bening agar lebih awet kemudian ditempelkan di dinding dengan bantuan plester timbal balik.

Si kakak yang sibuk menempel dan melepaskan
plester timbal balik setelah diprint

alhamdulillah... selesai juga ditempelkan di ruang belajar anak-anak

Bacaan-bacaan dzikir ini saya ambil dari buku “Do’a dan Wirid”, penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i. Buku dzikir lengkap yang berkuran 11,5cm x 19,5cm dengan ketebalan 495 halaman ini, sangat saya rekomendasikan untuk dimiliki. Membahas lengkap mulai Asmaul Husna, hal-hal yang berkaitan tentang do’a dan dzikir baik keutamaan, adab serta kaidah dalam berdo’a dan berdzikir. Dzikir-dzikir dalam buku ini terbagi dalam dua bagian besar yakni do’a dari Al-Qur’an serta Do’a dan dzikir dari As-Sunnah, dilengkapi dengan dalil serta riwayat dan derajat haditsnya sehingga dari sisi ilmiahnya terpenuhi. Yang menarik, di dalam buku ini juga terdapat pembahasan khusus tentang Ruqyah, yakni mengobati guna-guna sihir dan penyakit lainnya menurut Al-Qur’an dan Assunnah.. pokoknya komplit…plit…plit…deh.:)



Bagi yang ingin mendownload bacaan do'a dan dzikir setelah shalat yang sederhana ini, silahkan download ke sini.
Isi = 9 lembar PDF berukuran A4

Selasa, 16 Desember 2014

Nasihat berharga Rasulullah kepada Ibnu Abbas

عَن أَبِيْ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ اصُّحُفُ

“Dari Abu Abbas, Adullah bin Abbas radhiyallaahu  ‘anhumaa  berkata, Aku berada di belakang (membonceng) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam  pada suatu hari, lalu berliau bersabda, “Wahai anak, akan aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat, ‘Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau dapatkan Dia di hadapanmu. Apabila engkau memohon, mohonlah kepada Allah, apabila engkau meminta pertolongan, minta tolonglah engkau kepada Allah. Ketahuilah bahwasanya seandainya umat ini berkumpul untuk memberikan kemanfaatan kepadamu dengan sesuatu niscaya mereka tidak akan dapat memberikan kemanfaatan kepadamu sedikitpun melainkan dengan apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan sekiranya mereka berkumpul untuk menimpakan mudharat atas kamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mampu menimpakan mudharat atas kamu sedikitpun melainkan dengan apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran. “ (H.R Tirmidzi, beliau berkata, hadits hasan shahih)

Senin, 08 Desember 2014

Cara mengetahui likers fan page facebook kita

Sebelumnya saya tidak pernah ingin tahu siapa likers fan page Lianra Shop (bisnis online shopku), selama ini cukup dengan melihat jumlah likesnya. Dan entah kenapa dari dulu saya pikir mudah saja mengetahuinya hanya dengan meng-klik bagian likesnya.



Ternyata sangkaan saya kurang tepat, kita hanya bisa mengetahui likers yang kebetulan berteman dengan akun pribadi kita, selebihnya tidak. Saya sudah mencoba meng-klik sana sini ternyata nihil juga.

Saya memang tiba-tiba jadi ingin tahu siapa yang me-like fan page Lianra Shop karena kuis yang iseng-iseng saya buat dan salah satu persyaratannya adalah harus me-like fan page Lianra Shop.

Akhirnya, saya mencoba mencari tahu caranya via google. Dan ternyata sangat mudah saudara..saudara..

Kita hanya cukup mengetikkan di kotak pencaharian facebook kita dengan “People who like nama fan page kita



Setelah itu akan muncul daftar akun yang me-like fan page kita. Sederhana bukan ? ^_^


Semoga informasi ini bermanfaat ya.. . siapa tahu ada yang mempunyai kasus yang sama denganku :) 

Minggu, 07 Desember 2014

Mengenal lebih dekat Abu Hurairah (2)

“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di  genggaman-Nya, jika salah seorang di antara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, itu belum menandingi satu mud pencapaian mereka, bahkan setengah mud pun belum.” (Muttafaq ‘alaihi)

Ungkapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ini menggambarkan betapa agung para sahabat di hadapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sehingga beliau sungguh tidak rela apabila ada di antara mereka yang dicela. Tentu saja sanjungan ini tidak berlebihan. Perhatikan firman Allah berikut :

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.” (At-Taubah : 100)

===

Kembali ke kisah Abu Hurairah...


Kesungguhan Abu Hurairah kepada ilmu dan kehadirannya di majelis-majelis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membuatnya harus memikul kelaparan dan kesulitan hidup yang tak dimiliki orang lain.

Abu Hurairah berkata tentang dirinya sendiri :
Aku pernah didera kelaparan yang sangat. Sampai-sampai aku terpaksa berpura-pura bertanya kepada seorang laki-laki dari sahabat-sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang satu ayat Al-Qur’an padahal aku sudah mengetahuinya, aku melakukan hal itu dengan harapan dia akan berkenan membawaku ke rumahnya dan memberiku makan.

Suatu hari aku benar-benar sangat lapar, sehingga aku mengganjal perutku dengan batu. Aku duduk di jalan yang biasa dilalui para sahabat. Tidak lama kemudian Abu Bakar pun lewat, aku bertanya kepadanya akan satu ayat dalam kitab Allah, aku bertanya kepadanya kecuali agar dia membawaku ke rumahnya, namun dia tidak melakukannya.

Kemudian Umar bin Khattab lewat di depanku, aku melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan terhadap Abu Bakar, dan Umar pun melakukan hal yang sama dengan Abu Bakar, sampai akhirnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam lewat di depanku, beliau tahu aku sedang lapar. Beliau bertanya, “Abu Hurairah

Aku menjawab, “Ya, wahai Rasulullah”

Lantas aku mengikuti masuk rumah bersama beliau. Beliau melihat satu bejana berisi susu. Beliau bertanya kepada keluarganya, “Dari manakalian mendapatkan susu ini?”

Mereka menjawab, “Fulanah mengirimkannya untuk engkau.”

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, “Abu Hurairah, pergilah kepada Ahli Suffah dan panggillah mereka kemari” (ahli suffah adalah tamu-tamu Allah dari kalangan kaum muslimin yang miskin, tidak mempunyai keluarga, tidak punya harta dan tidak memiliki keluarga, tidak punya harta dan tidak mempunyai anak, mereka tinggal di shuffah mesjid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam)

Permintaan beliau kepadaku untuk mengundang mereka tidak menenangkanku, aku berkata dalam diriku, “Apa yang bisa dilakukan terhadap susu ini terhadap ahli Shuffah? Semestinya aku dulu yang minum sehingga aku kuat lalu aku pergi kepada mereka”.

Aku datang kepada ahli Shuffah, aku mengundang mereka dan merekapun datang, manakala mereka 
duduk di hadapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata kepadaku, “Ambillah bejana itu dan berikalah kepada mereka”.

Aku pun memberi mereka minum satu persatu hingga mereka semua kenyang, kemudian aku memberikan bejana susu tersebut kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Beliau memandangku dengan tersenyum seraya bersabda, ” Tinggal aku dan kamu wahai Abu Hurairah”

Aku menjawab, “Benar Ya Rasulullah”

Beliau bersabda, “Minumlah”. Maka akupun minum.

Beliau bersabda, “Minumlah”. Maka akupun minum.

Dan beliau terus bersabda, ”Minumlah”

Dan aku terus minum sampai aku berkata, “Demi Allah yang telah mengutusmu dalam kebenaran, tidak ada ruang dalam perutku untuknya”

Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengambil bejana dan meminum sisanya.

===

Tidak perlu waktu lama setelah itu sehingga harta datang kepada kaum muslimin dengan melimpah. Harta-harta rampasan perang mengalir ke mereka. Abu Hurairah pun memiliki harta, rumah dan perlengkapannya. Dia juga memiliki istri dan anak.

Namun semua itu tidak merubah penampilan pribadinya yang mulia sedikitpun. Tidak membuatnya melupakan hari-harinya yang telah berlalu. Dia sering berkata, “Aku tumbuh sebagai anak yatim, aku berhijrah dalam keadaan miskin, aku adalah kuli Busrah binti Ghazwan dengan upah makanan yang mengenyangkan perutku, aku melayani orang-orang ketika mereka singgah, menumpang kendaraan mereka ketika mereka bernagkat, lalu Allah menikahkanku dengannya. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan agama sebagai pilar utama dan menjadikan Abu Hurairah sebagai imam”.

Abu Hurairah beberapa kali menjadi gubernur Madinah atas perintah Mu’awiyah bin Abu Sufyan, namun jabatan tersebut tidak merubah tabiatnya yang pemurah dan keramahannya sedikitpun.
Saat dia menjabat gubernur Madinah, dia melewati salah satu jalan di sana, dia memanggul kayu bakar di atas punggungnya untuk keluarganya, dia melewati Tsa’labah bin Malik, maka dia berkata, 

“Berikanlah jalan untuk gubernur wahai Ibnu Malik”

Tsa’labah menjawab,”Semoga Allah merahmatimu, apakah jalan seluas ini tidak mencukupimu?”

Maka dia berkata, “Berikanlah jalan untuk gubernur dan kayu bakar yang ada di punggungnya”.

Abu Hurairah menggabungkan keluasan ilmu dan kemurahan hatinya dengan ketakwaan dan kebersihan hati, dia berpuasa di siang hari dan  bangun malam untuk shalat di sepertiga malam yang pertama, kemudian ia membangunkan istrinya lalu istrinya shalat malam di sepertiga malam yang kedua, kemudian istrinya membangunkan anak perempuannya lalu dia shalat di sepertiga malam yang ketiga. Sehingga rumah Abu Hurairah tidak terputus dari ibadah sepanjang malam.

Putrinya pernah mengadu kepadanya, dia berkata, “Bapak, teman-temanku mengejekku, mereka berkata, ‘Mengapa bapakmu tidak menghiasimu dengan emas?’” maka Abu Hurairah berkata, “Katakan kepada mereka, ‘ Sesungguhnya bapakku takut panasnya api neraka atasku’”

Penolakan Abu Hurairah untuk mempercantik putrinya dengan perhiasan bukan karena dia kikir atau rakus dalam menumpuk harta, tetapi karena Abu Hurairah adalah laki-laki dermawan yang banyak memberi di jalan Allah.

Marwan bin Al-Hakam mengirimkan seratus dinar emas kepadanya, esoknya, dia mengutus seseorang kepada Abu Hurairah, dia berkata, “Orangku salah telah menyerahkan dinar emas kepadamu, bukan kamu yang aku inginkan, akan tetapi orang lain”

Abu Hurairah diam, lalu dia menjawab, “Aku telah membelanjakannya di jalan Allah dan tidak tersisa satu dinar pun di tanganku, jika jatah pemberianku dari negara sudah keluar maka lunasilah ia dengannya.”

Marwan melakukan itu untuk mengujinya, manakala dia meneliti, dia melihat kebenarannya.

===

Manakala Abu Hurairah sakit, yang dalam sakitnya itu dia meninggal dunia, dia menangis. Orang banyak bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Hurairah?”

Dia menjawab, “Aku tidak menangis atas dunia kalian ini, akan tetapi aku menangis karena perjalananku jauh dan bekalku sedikit. Aku telah berada di ujung jalan yang membawaku ke syurga atau ke neraka. Aku tidak tahu ke mana aku melangkah”

Marwan bin AL-Hakam menjenguknya dan berkata, “Semoga Allah menyembuhkanmu wahai Abu Hurairah”.

Maka Abu Hurairah menjawab, “Ya Allah sesungguhnya aku mencintai perjumpaan denganMu maka cintailah perjumpaan denganku dan segerakanlah”. Marwan baru saja hendak meninggalkan rumah dan Abu Hurairah telah wafat.

Semoga Allah merahmati Abu Hurairah dengan rahmat yang luas, dia telah menghafal untuk kaum muslimin lebih dari 1609 hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas jasa mulianya bagi Islam dan kaum muslimin.


Sumber : 

“Mereka Adalah Para Sahabat”, 
Penulis Dr. Abdurrahman Rafat Ba’sya, 
Penerbit At-Tibyan 
Ketebalan : 420 halaman
Ukuran : 16,5 x 25 cm

Mengenalkanmu pada hujan

Rupanya khadijah belum terbiasa dengan hujan...
Setiap hujan turun dengan derasnya, dia akan segera berlari mendekapku, lalu minta untuk digendong.
Hanya kubalas dekapannya, dan terasa dekapannya semakin erat.

"Harus kukenalkan dia pada hujan" pikirku.
Kubawa dia ke belakang rumah, ada curahan hujan di sana.
Kubimbing tangannya untuk meraih hujan,
Sambil ku bersorak girang dengan wajah ceria, "Alhamdulillah hujaaan"...
Kulihat tangannya yang mulai mempermainkan hujan.

Kini dia tak takut lagi...bermain ceria seperti tak ada hujan.

Besok besok, insya Allah, jika kau takut lagi, ku kan melakukan hal yang sama.
Supaya tak ada lagi takut di hatimu karena hujan.
Bahwa hujan adalah rahmat... Yang sekian lama dinanti di tahun ini.

Cukup ucapkan do'a...
"Allaahumma shayyiban naafi'an"
Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat

Sabtu, 06 Desember 2014

Launching blog baru Aisyah ^_^

Beberapa waktu belakangan ini, Aisyah memang sangat senang menulis dan menggambar. Entah di buku tulis, ataupun di buku catatan yang dia buat sendiri dari kertas HVS yang diklip.

buku catatan buatan aisyah

Terinspirasi dari beberapa blogger yang membuatkan blog khusus untuk anak-anak mereka, saya jadi berpikir kenapa tidak membuatkan blog khusus untuk Aisyah. Mudah-mudahan ini lebih memotivasinya dalam mengasah keinginan menulis dan menggambar.

Rencana ini saya utarakan ke Aisyah. “Mau tidak saya buatkan blog khusus, seperti tulisan-tulisannya ummi yang ditulis dalam Pondok Ummi”
Aisyah menyambut usul itu dengan antusias, “Mauuu!!”

Tidak menunggu waktu lama, saya mulai membuatkannya blog.
Pertama tentu dengan membuatkannya akun google. Sehingga pada saatnya dia bisa mandiri sebagai blogger, tidak perlu lagi membuka akunku untuk menulis blognya.
Kedua, mulai membuatkan blog baru dalam platform blogger.
Ketiga, memilihkan tema.
Untuk tema ini saya sengaja memilihkan warna-warna cerah agar semakin semangat ketika tulisannya dilatarbelakangi dengan warna-warna cerah.
Keempat, memasukkan tulisannya ke dalam postingan.

Dan akhirnya…tarrraaaa…
Jadilah blog aisyah dengan alamat blog http://aisyahmenulis.blogspot.com
Dan terlihat betapa senangnya dia melihat tulisannya terpampang di dalam blog.



Postingannya sendiri masih melalui saya karena usianya yang masih sangat belia (5 tahun) untuk mengakrabkan diri dengan radiasi komputer. Insya Allah step by step akan dikenalkan menulis mulai lewat Microsoft Word sampai memposting langsung ke blognya sendiri.


Bagi yang ingin berkunjung disilahkan ya, supaya Aisyah lebih tambah semangatnya dalam menulis dan menggambar

Kamis, 04 Desember 2014

Mengenal lebih dekat Abu Hurairah (1)

“Abu Hurairah telah menghafal untuk umat Islam hadit-hadits
Rasulullah melebih dari seribu enam ratus hadits”


Adakah seseorang di kalangan umat Islam yang tidak mengenal Abu Hurairah?

Orang banyak di zaman jahiliyah memanggilnya Abd Syams. Manakala Allah Ta’aala memuliakannya dengan Islam dan menganugrahkan kepadanya kesempatan untuk bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bertanya kepadanya, “Siapa namamu?”

Dia menjawab, “Abd Syams”

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak, tetapi Abdurrahman”

Abu Hurairah menjawab, “Ya Benar, aku adalah Abdurrahman Ya Rasulullah”

Adapun kunyahnya, Abu Hurairah, ini dikarenakan semasa kecil dia mempunyai seekor kucing kecil yang menemaninya saat ia bermain, maka anak-anak sepermainannya memanggilnya Abu Hurairah.

Panggilan itu terus berlanjut dan menyebar sehingga mengalahkan nama sebenarnya. Rasulullah sering memanggilnya dengan nama Abu Hirr, sehingga Abu Hurairah lebih memilih Abu Hirr dibanding Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kekasihku memanggilku dengannya”

Hirr adalah kucing jantan dan Hurairah adalah kucing betina.

Abu Hurairah masuk Islam atas bimbingan Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi, namun Abu Hurairah tetap tinggal di bumi Daus sampai 6 tahun setelah hijrah dimana saat itu dia dengan beberapa orang kaumnya datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di madinah.

Anak muda dari Daus ini berkonsentrasi untuk berkhidmat dan menyertai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, sehingga dia memilih masjid sebagai rumah dan beliau sebagai pendidik dan imamnya. Karena semasa hidup Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Hurairah tidak memiliki istri dan anak. Abu hurairah hanya memiliki seorang ibu tua yang tetap berpegang pada kesyirikan. Abu hurairah tidak pernah lelah mengajak ibunya untuk masuk ke dalam Islam, namun ibunya justru menjauh dan menghalang-halangi niat baiknya.

Suatu hari, Abu Hurairah mengajak ibunya untuk beriman kepada Allah dan RasulNya, namun ibunya justru mengatakan kata-kata yang membuatnya bersedih dan berduka terkait dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Abu Hurairah menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sambil menangis, lalu beliau bertanya kepadanya, “Wahai Abu Hurairah, apa yang membuatmu menangis?”

Dia menjawab, “Sesungguhnya aku tidak pernah jemu untuk menyeru ibuku kepada Islam namun dia selalu saja menolak.  Hari ini aku mengajaknya kembali namun dia justru mengucapkan kata-kata yang tidak aku sukai. Tolong berdoalah untuk ibuku kepada Islam.”
Maka nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pun berdo’a kepada Allah untuk ibunya.

Abu Hurairah berkata, aku pulang, aku melihat pintu rumah tertutup, aku mendengar bunyi guyuran air, ketika aku hendak masuk, ibuku berkata, “Tetaplah di tempat wahai Abu Hurairah”. Dia lalu memakai bajunya dan berkata,”Sekarang masuklah”. Aku masuk dan dia berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya,”

Aku menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan menangis karena bahagia setelah sebelumnya aku menangis karena bersedih, aku berkata “Berbahagialah Ya Rasulullah, Allah telah menjawab do’amu dan member hidayah ibuku kepada Islam.”

Zaid bin Tsabit berkata :

Ketika aku, Abu Hurairah dan seorang sahabat berada dalam masjid, yaitu ketika kami sedang berdo’a kepada Allah dan berdzikir, saat itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam masuk, beliau berjalan dan duduk di tengah-tengah kami, kami pun diam maka berliau bersabda, “Teruskan apa yang kalian lakukan”.

Maka aku dan seorang sahabat berdo’a sebelum Abu Hurairah dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam  mengaminkan do’a kami. Kemudian Abu Hurairah berdo’a, “Ya Allah, aku memohon kepadaMu apa yang diminta oleh kedua temanku ini dan aku memohon kepadaMu ilmu yang tidak terlupakan”

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata, “Amin”

Kami pun berdua berkata, “Kami pun memohon kepadaMu ilmu yang tidak terlupakan.”

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda’ “Abu Hurairah telah mendahului kalian berdua”.

Sebagaimana Abu Hurairah mencintai ilmu untuk dirinya, dia juga mencintai ilmu untuk orang lain. Suatu hari dia masuk ke pasar Madinah, dia terkejut melihat kesibukan orang banyak, mereka tenggelam dengan perniagaan jual beli, menerima dan member, maka dia mendekat dan berdiri di hadapan mereka, dia berkata, “Betapa lemahnya kalian wahai penduduk Madinah”.

Mereka bertanya, “Apa kelemahan kami yang engkau ketahui wahai Abu Hurairah?”Abu Hurairah berkata,

“Warisan Rasulullah dibagi namun kalian masih tetap di sini? Mengapa kalian tidak berangkat dan mengambil bagian kalian darinya?”

Mereka berkata, “ dimana wahai Abu Hurairah?”

Abu Hurairah menjawab, “Di masjid”

Maka orang banyakpun bergegas keluar dari pasar sementara Abu Hurairah tetap berdiri di tempatnya sampai mereka kembali, manakala mereka melihat Abu Hurairah, mereka berkata, “Wahai Abu Hurairah, kami telah masuk masjid dan kami tidak melihat apapun di sana.”

Abu Hurairah balik bertanya, “Apa yang kalian lihat?”

Mereka menjawab, “Kami melihat sekelompok orang sedang shalat, sekelompok orang sedang membaca Al-Qur’an dan sekelompok orang belajar halal dan haram”

Abu Hurairah berkata, “Celakalah kalian itulah warisan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam


===

Kisah ini kami kutip dari buku “Mereka adalah para Sahabat, kisah-kisah Manusia Pilihan Dari Generasi Terbaik Umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam". Buku ini adalah buku terjemahan dari "Shuwaru min Hayatish Shahabah", penulis Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya.Penerbit Pustaka At-Tibyan

Dalam buku yang memiliki ketebalan 420 halaman ini, masih banyak kisah-kisah para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang menggugah (lebih dari 60 kisah sahabat). Sengaja saya mengutip sebagiannya melalui postingan agar lebih menebar manfaat akan isi buku.

Sahabat Rasulullah adalah mata rantai pertama sampainya Islam ini kepada kita semua, setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
Banyak dari kita selama ini yang hanya mengetahui sedikit saja dari mereka radhiyallaahu ‘anhum. Itupun jika tahu, mungkin hanya sekedar nama ataupun secuil dari kisah mereka. Tidak terlepas diri kami pribadi.

Oleh karena itu, mari belajar mengenal mereka. Mereka yang menjadi generasi terbaik ummat ini…
Bukankah tak kenal maka tak cinta?
Mari mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Bukankah di akhirat nanti kita akan bersama orang yang kita cintai? Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam

الْمَرْأُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
Sesorang akan bersama orang yang dicintainya
(hadits Shahih, Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)


Bagaimana cara mencintai mereka? Salah satunya dengan membaca kisah-kisah mereka...

Rabu, 03 Desember 2014

Solusi mengendalikan emosi


Judul Buku : Ayo Marah, Buku Komplit Manajemen Marah
Penulis : Irawati Istadi
Penerbit : Pustaka Inti
Cetakan: Pertama, Agustus 2010
Ketebalan : 212 + 12 halaman
Ukuran : 16 x 24 cm

Buku ini adalah buku ketiga yang saya baca dari buku Irawati Istadi. Satu hal yang saya sukai dari gaya kepenulisan ibu Irawati Istadi adalah tulisan yang mengalir, sarat akan ilmu, hikmah dan nasihat namun tidak terkesan menggurui, ditambah lagi bahwa tulisan yang ada dalam buku ini merupakan implementasi dari pengalaman pribadi penulis. 

Seperti dituliskan pada pengantar penulis bahwa sifat emosional (pemarah) merupakan sifat dasar dari penulis, namun penulis menyadari bahwa sifat pemarah yang cenderung destruktif ternyata berdampak negatif untuk tumbuh kembang putrinya yang menjadi tak terkendali dan cenderung mengikuti sifat pemarah dari ibunya. Setelah itu dia bertekad untuk berubah dan melakukan terapi khusus untuk menghilangkan kebiasaan marah. Dan hal itu tidak berjalan dalam waktu singkat, penulis membutuhkan waktu 4 tahun untuk bisa terlepas dari lingkaran “kemarahan” tersebut.                                    

Buku ini tidak menyuruh kita menahan marah secara total. Namun, buku ini mengingatkan kita untuk memilih waktu dan cara yang tepat untuk marah. Bukan marah yang sekedar marah. Karena ternyata sebuah kemarahan yang tidak dikendalikan akhirnya justru akan membawa keburukan.
Marah tidak selamanya salah, marah juga kadang-kadang diperlukan untuk menjadi solusi terhadap suatu masalah yang selanjutnya di dalam buku ini disebut marah positif (hal.10)

Salah satu dampak negatif dari amarah ini adalah ketaatan semu. Banyak orang tua menyangka bahwa marah seakan-akan satu-satunya cara yang efektif untuk mendidik anak, karena dengan menggunakan kemarahan, anak bisa dibuat patuh dan mengikuti perintah orang tua. Orang tua merasa yakin telah menemukan kcara yang tepat untuk mengubah anak menjadi lebih baik.

Padahal, hal ini bisa memicu masalah baru yakni kepatuhan anak-anak itu adalah semu belaka. Anak-anak berpura-pura patuh untuk menghindari efek kemarahan yang lebih besar lagi yang harus ia terima. Maka kepura-puraan itu pasti ada batasnya. Suatu saat, ketika anak sudah merasa kuat untuk membangkang, ketika ada kesempatan luang, atau ketika orang tua sedang tidak memiliki waktu untuk marah, anak punya kesempatan dan keinginan untuk melakukan pembangkangan. (hal.21)

Penulis juga ingin meluruskan persepsi sebagian besar kita bahwa sifat marah bukanlah disebabkan karena keturunan tapi pola asuhnyalah yang memberikan peran terpenting. Pengalaman hidup anaklah yang mengajarkan kepadanya  bagaimana menyalurkan emosi (marah). Baik pola asuh yang terbentuk dari didikan orang tua secara langsung maupun pengaruh lingkungan, tempat tinggal misalnya. Maka saran dari penulis untuk serta merta memilih lingkungan yang baik bagi perkembangan anak.

Potensi karakter yang dimungkinkan menurun tersebut adalah seperti tingkat agresifitas seseorang. Ayah yang agresif bisa menurunkan agresifitasnya kepada anaknya. Namun, perlu diingat bahwa agresif belum tentu berkonotasi negative. Potensi agresif bisa saja diarahkan pada hal-hal postif dan akan menghasilkan prestasi yang luar biasa.(hal.35)

Lagi-lagi Golden Age

Nampaknya memang penulis menaruh perhatian khusus pada masa golden age. Penulis selalu menyediakan ruang khusus untuk masa-masa Golden Age, yakni masa 5 tahun pertama pada anak karena pada masa-masa itulah perkembangan otak anak 80% dari sempurna. Begitu juga di buku-buku sebelumnya. Pembahasan mengenai golden age juga pernah saya bahas di postingan ini.

Dalam buku ini, penulis menjabarkan pemicu kemarahan di usia golden age, diantaranya sifat egosentrisme serta meniru orang lain. Selanjutnya penulis melanjutkannya dengan bagaimana mengawal proses pengendalian marah pada masa-masa tersebut. (51-57)

Setelah membahas satu persatu mengenai pemicu kemarahan tersebut, penulis kemudian memberikan solusi dalam mengendalikan kemarahan dengan memberikan penjelasan tentang bagaimana cara marah yang efektif, serta bagaimana tuntunan marah dalam Islam. Semua dikupas tuntas dalam hal 59-117.

Awalnya saya menyangka bahwa penulis hanya memaparkan kemarahan yang hanya berhubungan dengan kemarahan pada anak. Ternyata saya salah, karena dalam buku ini juga dibahas bagaimana meredakan kemarahan suami istri yang salah satunya dengan mengenal dengan baik-baik karakter pasangan kita masing-masing. Karena tidak bisa dipungkiri kemarahan terhadap anak merupakan dampak dari kondisi hubungan suami istri yang tidak harmonis.
Bukan hanya itu saja, di buku ini juga membahas bagaimana memanajemen kemarahan, baik di tempat kerja maupun di  lingkungan sekolah.

Komplit bukan?
Tidak salah rasanya penulis menambahkan judul pada buku ini dengan “Buku Komplit Manajemen Marah”, karena penulis menjabarkan persoalan “marah” tidak hanya terfokus pada satu sisi.
Contoh-contoh kasus dalam tiap pembahasan yang sangat berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari, semakin memudahkan kita dalam mangambil hikmah dan memahami tiap pembahasan.

Daftar isi

====

Persoalan marah memang penyakit kronik yang mendera sebagian besar kita dan itu semakin jelas pada saat kita memiliki buah hati. Di situlah tingkat kesabaran kita diuji. Tidak salah jika penulis menyediakan ruang yang dominan untuk membahas kemarahan terhadap anak dibanding kemarahan terhadap pasangan ataupun antar rekan sekerja.

Persoalan marah memang berat, apalagi jika kita selaku orang tua “dulunya” tumbuh dengan sentuhan kemarahan yang secara tidak sadar menjadi karakter dari sebagian kita. Tidak salah, Allah menjanjikan ganjaran yang besar bagi seseorang yang mampu mengendalikan amarahnya melalui lisan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Janganlah engkau marah niscaya bagimu syurga”
(hadist shahih, riwayat Ibnu Abid Dunya)

Yah, SYURGA bunda-bunda sekalian… ganjarannya adalah SYURGA…

Selanjutnya, saya sangat merekomendasikan bagi para orang tua untuk memiliki buku ini, karena segala sesuatu itu butuh ilmu. Terutama kita sebagai orang tua, yang memiliki peran untuk mempersiapkan anak-anak kita menjadi generasi penerus yang gemilang. Minimal, generasi yang tidak gampang marah ^_^