Senin, 01 Juni 2015

Postingan Pertama di awal Juni


Mengintip postingan terakhir, ternyata sudah 3 bulan lamanya saya tidak menambah postingan. Ini bukan tanpa sebab. Sejak mengikuti perkuliahan pertengahan Februari, saya betul-betul disibukkan dengan kegiatan perkuliahan, mulai pukul 7.15 berangkat dari rumah hingga sore, dari Senin hingga Jum’at. Sesampai di rumah sudah menunggu anak-anak santri hingga menjelang Maghrib. Setelah itu fokus mengurus tiga anak-anakku dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. 

Beranjak tidur diusahakan pukul 21.00 malam hari dan berusaha bangun lebih awal karena harus mempersiapkan segala sesuatunya. Hampir dikatakan saya sangat jarang menyentuh dunia online. Group chat di BBM maupun WA juga hampir tak terbaca, sekedar lewat saja terkadang. Kegiatan belajar online yang saya ceritakan di postingan sebelumnya akhirnya saya lepas satu persatu karena lebih memilih skala prioritas. Kembali lagi, manusia cuman berencana, takdir kita kembalikan kepada-Nya.

Waktu serasa berlalu begitu cepat, hari berganti betul-betul tak terasa. Mungkin karena beberapa bulan ini saya menjalani hari sebagai single parent jadi sangat terasa dimana tidak ada partner setia yang biasa menemani karena sedang bertugas di luar kota. Ditambah lagi, selama ini saya berada zona nyaman stay at home sebagai ibu rumah tangga yang bisa mengatur waktu sesuka hati, tiba-tiba harus dihadapkan dengan kondisi jam keluar yang sangat padat. Adaptasi awal begitu sangat terasa. Sampai-sampai untuk mengulang pelajaran di perkuliahan begitu susahnya ketika sudah berada di rumah.

Banyak sudah moment yang terlewati, mulai dari cerita perkuliahan yang menyenangkan sekaligus melelahkan :). Materi perkuliahan yang memang begitu saya ingin mendalaminya dari dulu yakni bahasa Arab dan ilmu Islam lainnya, serasa mendapatkan curahan air setelah dahaga sekian lama. Terutama bahasa Arab, semakin mengenalnya semakin ingin mendalaminya lebih jauh ^_^

Moment dimana saya terpaksa berhenti mengikuti perkuliahan sementara karena tiba-tiba jatuh sakit (efek kelelahan -_-) yang menyebabkan saya harus bolak balik pemeriksaan di rumah sakit. Dan sekarang saya harus beristirahat di rumah karena pesan dokter belum boleh terlalu kelelahan. Mudah-mudahan bisa mengikuti perkuliahan kembali di semester depan.

Belum lagi moment yang terlewatkan yakni saat menyapih si bungsu. Kembali dengan metode komunikasi, alhamdulillah si kecil sudah tidak tergantung pada ASI nya, metode yang sama yang saya gunakan untuk kakak-kakaknya.

Terkadang mampir ke group blogger, melecut kembali keinginan untuk kembali membuat postingan. Akhirnya hari ini, postingan perdana setelah rehat sekian lama ^_^

Rabu, 11 Februari 2015

Hari-hari yang menyibukkan, di dunia maya dan "nyata"

Sepekan terakhir ini saya betul-betul sok sibuk baik di dunia maya maupun “nyata”. Beberapa tugas belajar yang betul-betul perlu untuk memanajemen waktu dengan baik.

Gambar ambil di sini


Seperti kesibukan di dunia maya akhir-akhir ini, tepatnya di beberapa group whatsapp yang saya ikuti. Ingin melepaskan tapi betul sarat dengan ilmu dan pembelajaran dan untuk sementara betul-betul saya butuhkan karena keterbatasan saya untuk memenuhi keinginan belajar tersebut di dunia “nyata”.

Sebut saja beberapa group belajar yakni group tahsin, Jodoh (just one day one hadits), dan juga masih bergelut menjadi musyrifah (pendamping) di program BISA seperti yang pernah saya ceritakan di sini.

Sering ada keinginan untuk melepaskan salah satu di antaranya, tapi betul-betul saya akan sangat merasa rugi.

1.       Tahsin

Gambar ambil di sini

Awalnya group ini adalah group tahfidz (menghafal Qur’an) ,namun karena kebanyakan peserta (termasuk saya) masih belum sempurna dalam hal tajwid Al-Qur’an, maka pengajar berinisiatif untuk membentuk group tahsin.

Terus terang saya sangat bersyukur sudah bergabung di group ini, karena saya sudah sejak lama saya mencari kelompok belajar dalam hal tajwid Al-Qur’an tapi selalu terkendala dengan waktu dan kondisi. Yang saya suka dalam pembelajaran ini, pengajar betul-betul sangat berkompeten di bidangnya.

Insya Allah setelah pembelajaran tahsin ini akan dilanjutkan dengan tahfidz (menghafal Al-Qur’an). Alangkah indahnya jika kita dapat menghafalkan Al-Qur’an dengan tajwid yang benar. Jadi tidak heran bukan jika saya sangat merasa rugi jika harus melepaskan group ini??

2.       Jodoh (Just One Day One Hadits)



Jodoh merupakan program lanjutan dari program BISA yang pernah saya ceritakan di sini. Salah satu program hafalan yang menurutku sangat luar  biasa. Dalam waktu 2 bulan kita terkondisikan untuk menghafalkan sebanyak 50 hadits. Dengan metode sederhana namun sangat efektif untuk membiasakan kita menghafal hadits.

Menghafal hadits memiliki seni tersendiri, yang tentunya sedikit berbeda dengan menghafal Al-Qur’an karena tidak terlalu terikat dengan kaidah tajwid namun tetap menjaga makharijul huruf (tempat keluarnya huruf) dan perbedaan panjang dan pendeknya.

Metode menghafal haditsnya pun sangat cocok untuk pemula karena dimulai dengan hadits-hadits yang tidak terlalu panjang serta tidak dilengkapi dengan sanad, tetapi tetap disertai dengan derajat dan perawi hadits.

Tidak sekedar menghafal hadits, bertambahnya hafalan semakin bertambah pula ilmu yang diketahui, apalagi selalu ada penjelasan singkat dari hadits yang dihafalkan. Kegiatan menghafal hadits dibagi perlevel, tiap level terdiri dari 50 hadits. Alhamdulillah sekarang sudah mendekati ujian di akhir level dua.


3.       Musyrifah di program BISA


Sebagai alumni dari program BISA tentu ada tanggung jawab moril, menjadi seorang musyrifah (pendamping) dalam salah satu kelas di angkatan yang baru juga bermanfaat untuk menyegarkan ilmu tentang ilmu dasar sharaf. Walau sempat berpikir, terima tidak ya?? Akhirnya saya terima, dengan pemikiran kapan lagi bisa me-muroja’ah (mengulangi ) pelajaran??
Walau kesibukan saat mengoreksi tugas audio dan tulisan peserta sudah terbayang, tapi bismillah  saja. Bersabar untuk melalui 2 bulan ini.

= = =
Dengan melihat kesibukan belajar via whatsapp  di atas, tentu sahabat paham bukan kenapa saya sangat tidak ingin melepaskan group-group tersebut?? Sangat sarat dengan ilmu. Walau di usia kepala tiga, tidak menyurutkan keinginan untuk terus dan terus menuntut ilmu.
Kesibukan di dunia “nyata” tidak kalah. Kuliah intensif tentang ilmu-ilmu Islam secara tatap muka yang saya ingin ikuti  sebentar lagi dimulai, mengajar santri TPA tiap sore, dan yang paling utama mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak. 
Komitmen postingan blog dalam tiap pekan tidak ketinggalan dong ya.
Postingan ini juga dalam rangka komitmen itu ^_^

Semoga diberikan kekuatan dan keistiqomahan. Mudah-mudahan ini juga sebagai tempaan agar lebih bisa melatih manajemen waktu dengan baik agar semua bisa berjalan maksimal. Laa haula walaa quwwata illaa billah

Rabu, 04 Februari 2015

Kemana saja saya selama ini?

Buku-buku pelajaran Abdullah sudah resmi berganti. Buku-buku tematik yang merupakan keluaran kurikulum 2013 sekarang telah kembali menggunakan kurikulum sebelumnya yakni  kurikulum 2006. Abdullah pun diharuskan membeli buku cetak yang baru.

Buku-buku tematik yang tergantikan

Sepulang sekolah Abdullah memperlihatkan buku-buku cetaknya yang baru. Saya berinisiatif untuk membungkusnya dengan plastik bening. Setelah selesai membungkus semua buku-buku cetaknya, saya memeriksa buku-buku tulisnya. Dan betapa miris, ternyata selama ini saya terluput dari memperhatikan buku-buku tulis putraku. Entah kenapa selama ini saya hanya fokus memperhatikan “isi” bukunya tapi tanpa memperhatikan fisik bukunya.

Melihat fisik buku-buku tulisnya, ada yang terlihat bekas basah yang sudah mengering, ada yang ternyata bukunya sebagian sudah terkena coretan tangan mungil khadijah, dan ada yang sampulnya sudah agak robek, ditambah lagi satu buku berisi beberapa mata pelajaran. Aiiiih, kemana saja saya selama ini?

Sebegitu kurang perhatiannya saya dengan peralatan sekolah Abdullahku yang notabene sudah duduk di bangku SD. Teringat kembali masa-masa duduk di bangku sekolah dulu, tahun ajaran baru selalu diwarnai “ritual” membungkus buku. Membungkusnya terlebih dahulu dengan kertas marmer atau kertas kopi, lalu membungkusnya lagi dengan plastik bening. Kegiatan itu selalu menjadi saat-saat menyenangkan. Melelahkan tapi ada kepuasan setelah selesai mengerjakannya. Tapi sekarang, malah saya melewatkan moment ini untuk putraku.

Segera kuraih kertas marmer berwarna hijau muda yang sudah jauh hari tersedia. Memilah buku yang akan dibungkus, dan menyisihkan buku yang kelihatannya sudah tidak layak pakai dan menggantinya dengan buku-buku baru. Menambah buku untuk mata pelajaran yang selama ini masih nebeng di buku lainnya. Terlebih dahulu membungkus buku tulisnya dengan kertas marmer, lalu membungkusnya dengan plastik bening dengan terlebih dahulu menempelkan label sesuai mata pelajaran di sudut kanan atas.

Membungkus buku seraya beristighfar, sembari meminta maaf kepada Abdullah karena selama ini kurang memperhatikan buku-bukunya, lebih fokus kepada hal yang bersifat abstrak namun yang fisik terlupa. Sekarang sudah berlalu satu semester, walau terlambat tapi isnya Allah tetap bermanfaat karena masih bisa digunakan selama beberapa bulan ke depan.

Abdullah terlihat sangat senang, sambil sesekali memberikan semangat, “Semangat, Ummi”. Cukup melelahkan memang, lumayan membuat punggung pegal. Bahagianya saat Abdullah mengambil tempat di belakangku lalu memijatnya bahu dan punggungku, “Enaknyaaa”, saya terhenti sejenak, Abdullah lalu berkata, “Sudahmi deh karena nda jadi nanti membungkus”... “Hahaha”.  Kami tertawa bersama, iya juga ya karena keenakan dipijat nanti membungkus bukunya tidak selesai-selesai.

Akhirnya kegiatan membungkus buku selesai, lima buah buku cetak dan delapan buah buku tulis. Senang dan bahagia, kegiatan membungkus buku diselingi dengan bincang-bincang dan canda tawa.  tidak hanya saya dan Abdullah, tapi juga ada Aisyah dan Khadijah. Kebersamaannya terasa. Sayang ayah mereka tidak berada di tengah-tengah kami karena sedang tugas di luar kota. 

Oh iya, waktu sementara membungkus buku tiba-tiba listrik padam, akhirnya membungkus buku ditemani cahaya senter dan lilin tapi tetap semangat.

Ternyata memang bahagia itu sederhana ^_^


Sebagian buku yang sudah terbungkus , lainnya
dibawa Abdullah ke sekolah

Minggu, 01 Februari 2015

Berkreasi sambil bercerita

Judul  Buku : Origami, berkreasi sambil bercerita
Penulis : Astri Damayanti
Penerbit : Indria Pustaka
ISBN : 978 979 1475 31 0
Ketebalan : 54 + 3 halaman
Ukuran : 19 x 23,2 x 0,3 cm

Buku ini merupakan hadiah dari penulisnya yang mengadakan kuis di fan page Blogger VivaLog, bagi yang artikelnya terposting pada pekan yang ditentukan . Alhamdulillah, walaupun bukan pemenang tiga besar, tetapi mbak Astri sudah berbaik hati menghadiahkan kepada saya buku keren ini. Hadiah yang sangat cocok buat saya, yang memiliki tiga anak yang semuanya masih kanak-kanak.

Sesuai judul bukunya tentu sudah bisa tertebak kalau buku ini berisikan kreasi Origami. Semua tentu tahu kan yang dimaksud origami? Tahu dong...  yakni seni melipat kertas yang berasal dari Jepang. Berasal dari kata “ori” yang berarti lipat dan “kami” yang berarti kertas.

Di dalam buku ini berisi 10 kreasi origami yang bertemakan binatang.  Ayam, angsa, kepiting, serigala, kelelawar, lumba-lumba, udang, kepik, anjing dan kelinci. Tidak seperti buku Origami umumnya yang biasanya hanya berisikan langkah-langkah membuat origami, dalam buku ini juga dilengkapi Fabel sesuai karakter binatang yang telah dibuat. Dalam tiap cerita berisi satu hingga tiga tokoh binatang yang kesemuanya masih berada dalam lingkup binatang yang dikreasikan dalam buku ini. Asyik ya?

Kita bisa membuat terlebih dahulu semua karakter binatang yang ada, lalu dijadikan ilustrasi saat membacakan fabel yang ada dalam buku ini. Atau bisa juga membuat karakter sesuai cerita yang dibaca terlebih dahulu. Misalnya saja cerita tentang "Kepik yang iri" berisi karakter kepik, srigala dan kelinci, jadi kita bisa membuat karakter kepik, srigala dan kelinci terlebih dahulu. Anak-anak tentu akan sangat senang.

Salah satu cerita dalam buku ini terdiri dari
tiga karakter : kepik, serigala dan kelinci

 Langkah-langkah pembuatan origaminya pun cukup jelas dengan gambar yang cukup besar, namun jika ada detail yang cukup sulit, orang tua bisa mendampingi anak-anak dalam membuatnya.

Contoh langkah-langkah origami pada buku

Seperti buku anak pada umumnya, tampilan buku ini menarik, baik ilustrasi cover maupun isi buku. Tulisan dan gambar warna-warni khas buku anak, walaupun ada sekitar 10 lembar yang monokrom, namun tidak mengurangi daya tarik dari buku ini.

Dan satu lagi ada bonus kertas origaminya loh, jadi bisa langsung mempraktekkan isi buku ini dengan segera.

Bonus kertas origami yang disertakan dalam buku ini


Buku yang menarik bukan? Terutama untuk buah hati kita yang gemar berkreasi...

Duo bersaudara sudah sibuk mempraktekkan isi buku


Hal dasar yang perlu diketahui seputar masa puberitas

Setiap individu akan melalui tahapan pertumbuhan dan perkembangan dalam hidup, mulai masa kanak-kanak, remaja  hingga memasuki masa dewasa. Sebagai orang tua yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, pengetahuan mengenai tahapan-tahapan tersebut sangat perlu kita ketahui, sehingga kita dapat mendidik dan memperlakukan mereka sesuai tahapan usianya.

sumber : http://manjilala.info

Salah satu tahapan tersebut adalah masa remaja atau biasa disebut sebagai masa puberitas. Masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik dan psikis serta pematangan fungsi seksual. Hal ini disebabkan karena hormon-hormon khusus yang dimiliki sejak lahir. Anak perempuan memiliki banyak hormon hesterogen dan progesteron serta sedikit testosteron, sedangkan anak laki-laki memiliki banyak hormon testosteron dan sedikit hormon esterogen.

Ketika beranjak dari masa kanak-kanak (di bawah 8 tahun) ke awal masa remaja (9-10 tahun ke atas), ada satu kelenjar yang dinamakan kelenjar pituitary (kelenjar yang ada di otak) yang tugasnya mengatur hormon-hormon tadi untuk mulai bekerja. Hal ini mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan yang cukup cepat pada tubuh dan jiwa kita, yang menandakan bahwa kita sudah memasuki masa puberitas.

Umur berapa seseorang biasanya mulai puberitas?

Usia puberitas bagi setiap orang cukup beragam. Penyebabnya ada beberapa hal, antara lain: Faktor keturunan, baik buruknya gizi, dan ransangan-rangsangan yang diperoleh dari tontonan maupun bacaan.
Umumnya anak perempuan puber mengalami puberitas lebih awal dibanding anak laki-laki yaitu sekitar usia 8-15 tahun, sedangkan anak laki-laki sekitar usia 10-16 tahun.

Apa saja tanda-tandanya?

Masa puber ditandai dengan mulai berfungsinya organ reproduksi dalam memproduksi sperma, yang ditandai dengan mimpi basah. Sedangkan untuk anak perempuan ditandai dengan mengalami proses yang disebut menstruasi.
Dalam agama Islam, mimpi basah pada anak laki-laki atau menstruasi pada anak perempuan merupakan tanda-tanda bahwa seseorang itu sudah memasuki masa baligh

Ciri-ciri fisik :

Anak-laki-laki


  •  Tinggi dan berat badan bertambah
  • Wajah menjadi lebih berisi
  • Kulit menjadi lebih berminyak
  • Keringat berlebih
  • Bahu dan dada bertambah besar
  • Suara bertambah berat dan besar (agak fals)
  • Tumbuh jakun di tengah-tengah tenggorokan
  • Tubuh mulai berotot
  • Mulai mampu memproduksi sperma
  • Alat kelamin bertambah besar dan berwarna gelap
  • Sudah mampu berejakulasi (menyemprotkan sperma ketika mimpi basah atau melakukan masturbasi)
  • Tumbuh rambut di sekitar wajah, ketiak, di sekitar kelamin, dada (bagi sebagian orang), lengan dan kaki


Anak perempuan

  • Tinggi dan berat badan bertambah
  • Wajah menjadi lebih berisi
  • Kulit menjadi lebih berminyak
  • Keringat berlebih
  • Buah dada mulai mengembang
  • Puting susu menonjol keluar
  • Pinggul melebar
  • Bentuk tubuh menjadi lebih bulat karena lemak yang mulai menumpuk
  • Mulai datang bulan (menstruasi)
  • Tumbuh rambut di ketiak, di sekitar alat kelamin, lengan dan tungkai
  • Alat kelamin menjadi bertambah gelap warnanya
  • Cairan yang keluar dai vagina (alat kelamin) lebih jelas terlihat. 

Nah, itu tadi perubahan dalam hal fisik. Tidak hanya perubahan fisik, umumnya masa puberitas juga ditandai dengan perubahan-perubahan dalam hal psikis.

Mulai mencari jati diri : Aku siapa ya?

Emosi tidak stabil:
Mudah tersinggung atau marah
Mencari kasih sayang dengan orang-orang terdekat

Mulai tertarik dengan lawan jenis :
Gampang naksir, adanya kecenderungan menentang dan kritis.
Perasaan yang mudah sekali berubah, mudah senang, mudah sedih ataupun kesal

Rasa ingin tahu yang besar:
Mencari tahu atau sering bertanya
Merasa ingin diperhatikan

Tidak ingin tergantung pada orang tua :
Ingin menunjukkan kalau dia juga mampu
Ingin diakui sebagai orang dewasa


Satu hal yang selayaknya kita ketahui, bahwa saat seorang anak memasuki dunia remaja, hal yang terpikirkan oleh mereka adalah bahwa mereka ingin disetarakan dengan orang dewasa, mereka juga ingin di dengarkan. Mereka tidak lagi dalam masa kanak-kanak dimana kekuasaan kita dominan atas mereka. Seperti yang dipaparkan di atas bahwa seorang remaja lebih membutuhkan kasih sayang dari orang-orang yang terdekat, dan terkadang mencuri perhatian orang-orang yang disayanginya dengan hal-hal yang negatif.

Tidak jarang kita mendengar ulah remaja-remaja saat ini, tawuran, narkoba, merokok, free sex kian melanda. Mereka menjadi sasaran empuk bagi para perusak moral. Sungguh PR besar bagi kita para orang tua dimana arus informasi dan teknologi semakin tak terbendung. Terkadang saya bergidik ngeri melihat tantangan yang mereka hadapi ke depan.

Di usia 8-16 tahun mereka sudah mengalami pematangan fungsi seksual, artinya di masa itu resiko penyimpangan seksual jika hasrat seksual tak terarahkan bisa saja terjadi. Sudah menjadi rahasia umum, konten pornografi sering diselipkan dalam media-media yang menarik untuk para remaja, seperti tontonan (film/musik/sinetron/iklan), game elektronik offline maupun online, majalah, komik dan lainnya dapat memicu hal tersebut.

Apa yang dapat kita lakukan sebagai dalam mengarahkan para remaja kita?




Berikut yang dapat saya rangkum dari beberapa sumber :
  1. Dekatkan para remaja kita dengan agama. Dalam Islam, dengan mengarahkan mereka untuk dekat kepada Al-Qur'an dan Sunnah, menjadikan mereka memahami syariat agama yang mulia ini, dan hal tersebut merupakan cara ampuh untuk menjauhkan para remaja terhadap maskiat.
  2. Berikan informasi yang benar tentang hal-hal yang perlu mereka ketahui tentang masa puberitas, misalnya seputar organ reproduksi, dampak/resiko jika melakukan kegiatan seksual di luar koridor agama, baik dari sisi agama maupun kesehatan.
  3. Berusaha menjadi teladan. Dalam menetapkan sebuah aturan, sepatutnya kita yang harus menjadi teladan terlebih dahulu. Melarang anak mengurangi waktu memegang gadget, sementara kita menghabiskan banyak waktu dengan gadget, melarang anak laki-laki merokok sementara ayahnya perokok ulung, dan lainnya. Suatu hal yang kontradiktif bukan?
  4. Membangun kedekatan dengan remaja kita. Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa remaja butuh perhatian dari orang-orang yang dia sayangi. Berusaha memahami psikologis mereka yang ingin disetarakan dengan orang dewasa. Berusaha menjadi tempat yang paling nyaman untuk menampung curhat anak-anak kita dengan tidak hanya sekedar mendengar tapi berusaha memberikan solusi terbaik.
  5. Perhatikan bacaan maupun tontonan mereka. Seperti yang sudah dipaparkan, perusakan moral salah satunya karena pengaruh media, baik berupa tontonan maupun bacaan.
  6. Memilihkan teman yang baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan teman sangat berpengaruh bagi anak-anak kita. Tanpa terlalu terlihat menginterfrensi, hal ini bisa dilakukan dengan mencarikan wadah positif bagi anak-anak kita misalnya dengan membentuk komunitas yang memberikan energi positif misalnya komunitas dakwah, komunitas baca, dst.

Hal-hal yang dipaparkan di atas merupakan hal-hal dasar yang perlu kita ketahui seputar masa puberitas/remaja, sekaligus sebagai catatan pengingat untuk saya pribadi dalam mempersiapkan anak-anakku yang tidak lama akan memasuki pintu awal masa puberitas.

Semoga dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya. Saya mengajak para orang tua untuk tidak pernah berhenti belajar, karena segala sesuatu membutuhkan ilmu.






Bahan bacaan :
Ensexclopedia, Elly Risman, Hilman Al Madani, Yuhyina Maisura
Mendidik Anak Dengan Cinta, Irawati Istadi
Wikipedia.org

Jumat, 30 Januari 2015

Worksheet Mewarnai

Salah satu kegiatan yang sangat disukai oleh anak-anak pra sekolah adalah kegiatan mewarnai, begitu juga dengan anak-anakku. Itu juga yang memotivasiku untuk mencoba membuat worksheet mewarnai, tapi ternyata hanya sanggup membuat 5 lembar saja selebihnya rasa malas lebih mendominasi hehe...


Membuatnya sudah lama, namun dari pada tersimpan begitu saja di folder komputer, ada baiknya saya jadikan sebagai satu postingan, selain blog ter-update juga kiranya dapat bermanfaat bagi yang lain. Terdiri atas 5 file PDF yang masing-masing terdiri dari 1 lembar worksheet mewarnai.

Untuk mendownload, silahkan klik link dibawah ini



Semoga postingan singkat dan sederhana ini dapat bermanfaat ^_^

Selasa, 27 Januari 2015

Belajar membaca فَ (Fa)

Rasanya sudah sangat lama tidak bergelut dengan bahan-bahan belajar ini. Terakhir hanya sampai pada huruf غَ  dan sekarang melanjutkan ke huruf Fa "فَ". Sebenarnya memang tanggung jika tidak menyelesaikan hingga huruf ي, minimal kalau bukan saya yang memanfaatkan kiranya dapat berguna bagi orang lain.



Dulu saya berpikir bahan-bahan belajar ini tidak begitu diminati oleh pengunjung blog, sampai saya mendapat email dari pengunjung kalau bahan-bahan belajar ini ternyata bermanfaat, di email yang lain ada juga yang mengeluhkan sewaktu bermasalah pada saat mendownload dan dengan segera saya atasi. Setelah itu saya menjadi lebih bersemangat karena ternyata bermanfaat untuk orang lain.

Salah satu motivasi untuk membuat lanjutan bahan belajar ini karena si kecil Khadijah ternyata sudah mampu mengenali huruf, artinya sudah bisa distimulasi pelajaran membacanya. Secara tidak sengaja saya menuruti keinginannya karena dia memaksa untuk mengajarnya mengaji... “Ummi..maji (mengaji maksudnya)”.

Di luar perkiraan saya, dia ternyata merekam apa yang pernah diajarkan. Dia mampu mengenal bacaan “A” hingga “JA”. saya memang pernah mencoba memperkenalkan huruf-huruf ini ke Khadijah tapi dia asal saja menyebutnya, setelah itu saya santai saja, pikirku memang belum saatnya. Dia juga sangat suka menemani saya mengajar para santri mengaji di rumah. Tanpa disuruh, jika dia menemukan buku Iqro’ serta merta membaca, walau bacaannya masih belum dimengerti hehe...

Kalau sudah datang keinginan untuk mengaji, dia akan setengah memaksa kami (saya dan suami) untuk mengajarnya. Pernah satu waktu ayahnya terpaksa menahan kantuk karena menemaninya begadang untuk sekedar menulis dan mengaji. Khadijah...khadijah.

By the way, jika ingin mendownload bahan belajar ini, silahkan klik di sini. Isinya berupa 13 lembar file PDF. Silahkan menggunakannya dalam bentuk soft file ataupun menjadikannya dalam bentuk buku/flashcard.

Saya pribadi lebih memilih mengajarkan dalam bentuk buku untuk menumbuhkan kecintaannya terhadap buku.

Bahan belajar lainnya untuk seri iqro' bisa klik di sini


Semoga bermanfaat!

Minggu, 18 Januari 2015

Belajar Membaca Sejak Dini Sebagai Sarana Menumbuhkan Cinta Baca

Seingatku.. dulu pandai membaca di usia 5 tahun sudah merupakan hal yang amazing. Sehingga orang tua yang memiliki anak yang pandai membaca di usia itu adalah hal yang sangat membanggakan.

Namun, seiring dengan perkembangan informasi yang sangat pesat, saat ini hal tersebut bukan lagi sesuatu yang langka. Pandai membaca di usia balita bahkan batita adalah hal yang sangat mungkin.

Sudah menjadi isu yang menarik bahwa masa keemasan perkembangan otak anak malah pada usia 3 tahun pertama. Sehingga untuk mengajarinya membaca sejak dini, mengapa tidak?

Begitu pula dengan saya sebagai seorang ibu, hal ini tentu sangat menjadi bahan perhatian.  Harapan agar si kecil bisa membaca sejak dini tentu ada, terlepas dari kontroversi yang ada tentang masalah ini.

Saya jadi teringat dengan biografi seorang ulama yang sejak berusia kurang lebih 7 tahun sudah menghafalkan Al-Qur'an, di usia seperti itu sudah mengusai beberapa disiplin ilmu agama. Yang menjadi pertanyaan, dengan usia seperti itu kira-kira dalam usia berapa mereka mampu membaca Al-Qur'an? Tentu jauh sebelum usia itu karena sebelum menghafalkan tentunya kita harus mampu membacanya.

Mungkin hal ini termasuk salah satu motivasi dalam mengajarkan si kecil membaca sejak dini, baik itu bacaan iqro'nya yang tetap harus menjadi prioritas, maupun bacaan latinnya.

Saat itu saya sempat berpikir untuk menuntaskan iqro'nya terlebih dahulu lalu kemudian bacaan latinnya yang mungkin sudah saya paparkan di postingan yang lalu. Namun, berhari-hari saya merenung..kenapa tidak pembelajarannya diparalelkan? Sambil tetap bermusyawarah dengan suami.

Saya memutuskan sebelum memulai harus tetap mencari informasi, setidaknya sharing dengan orang yang mungkin punya pengalaman yang sama, ketakutan akan terjadi over lapping dengan pembelajaran iqro'nya.

Alhamdulillah, setelah sharing dengan seorang teman cukup merasa lega. Dia mengatakan, "Otak anak itu ibarat sponge, ia menyerap informasi apa saja yang dia peroleh", dan hal ini dipraktekkan kepada putranya, iqro' jalan, latin juga jalan. Akhirnya, bismillah.. kuputuskan untuk mulai mengajarkan si kecil. Tentunya jauh dari kesan memaksakan dan tetap dengan metode belajar dan bermain.

Pandai membaca hanyalah sebuah wasilah (sarana) karena tujuan kita ada pada apa yang ia baca nantinya dan menjadikannya "suka membaca" karena begitu banyak anak yang sudah pandai membaca tapi tidak suka membaca dan yang senang membaca tapi bukan bacaan yang bermanfaat.

Untuk mewujudkan hal ini, saya mencoba membuatkan bahan-bahan belajar untuknya, baik Iqro' maupun latinnya. Bahan-bahan belajar tersebut bisa dilihat di sini dan di sini. Silahkan didownload dengan gratis :)

Contoh flash card bahan belajar bacaan latin

Contoh bahan belajar iqro'

Alhamdulillah jerih payahku tidak sia-sia, hasilnya pun terlihat. Abdullah dan Aisyah bisa membaca di usia 3 tahun, dan untuk Aisyah serasa lebih mudah karena sudah memiliki pengalaman mengajarkan Abdullah terlebih dahulu, lagi pula selama ini dia memperhatikan bagaimana kakaknya belajar.

Merangsang minat baca


Tidak merasa puas sampai di situ saja karena memang tujuan kami bukan sekedar mereka pandai membaca, pandai membaca hanyalah sarana untuk menanamkan kecintaan mereka pada membaca itu sendiri. 

Sedari kecil saya membuatkan buku-buku bacaan sederhana dari kardus bekas, Buku Aku Anak Muslim dan Ayo Berhitung karena waktu itu kami masih tinggal di daerah yang masih terbatas buku-buku edukatif untuk anak. Ditambah lagi satu dua buku yang kami pesan secara online serta mem-print beberapa ebook hasil download.

Tiga buku diantaramya adalah kreasiku untuk anak-anak.(tahun 2008)
Ebooknya bisa dilihat di sini

Abdullah dan buku-bukunya waktu berusia setahun lebih
Membacakan cerita sebelum tidur sudah menjadi agenda keseharian, bahkan sampai saat ini, saat mereka sudah pandai membaca sendiri bukunya, mereka masih kadang meminta kami untuk membacakan cerita untuk mereka. Mungkin mereka lebih senang mendengarkan intonasi yang berbeda jika kami yang membacakannya.

Alhamdulillah, kecintaan itu mulai tumbuh. Sejak berada di Makassar, jadi lebih bisa menambah koleksi bacaan buat mereka karena adanya beragam pilihan. Kalau ke toko buku, ingiiiiiiin sekali rasanya memborong begitu banyak buku buat mereka. Namun kembali lagi, semua harus disesuaikan dengan budget yang ada.

Koleksi buku anak-anak
Buku buatanku masih awet sampai sekarang (2015)
walau sudah agak sedikit kucel, tapi buku Ayo berhitung (jilid 2)
entah kemana :(

Senang saat melihat mereka mulai menikmati bukunya sendiri tanpa tergantung kepada saya untuk membacakannya. Terkadang mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada saya terkait akan apa yang mereka baca

"Ummi, serangga apa yang suka pada bunga?"

"Kelelawar juga disebut binatang malam kan ummi?"

"Nabi Muhammad pernah dibelah dadanya kan ummi?"

dan pertanyaan lainnya.

Itu berarti, sudah ada hasil yang melekat pada mereka akan apa yang mereka baca. Alhamdulillah.

Pasukan pink lagi membaca, walau ini bukan posisi
yang tepat. Biasanya saya tegur, tapi karena lagi ingin mengambil gambar mereka
yanh lagi asyiknya membaca, ditegurnya setelah motret...hihi

Untuk mewujudkan kecintaan mereka pada membaca tentu tidak hanya berasal dari pihak mereka saja, yang paling utama buat saya adalah memberikan keteladanan buat mereka. Tularkan kepada mereka semangat cinta baca, perlihatkan kepada mereka pada saat kita membaca. Bahkan terkadang tertarik melihat apa yang kita baca.

Ada hal yang lucu saat saya membaca buku "Mendidik Anak Dengan Cinta" karya ibu Irawati Istadi. Si Khadijah malah dengan serius memperhatikan covernya...
Kebetulan, di covernya ada tiga orang anak, satu anak laki-laki dan dua anak perempuan. Satunya mengenakan jilbab. 

Dia berkata, "Ummi, jibat (jilbab maksudnya)" sambil menunjuk ke gambar anak perempuan yang mengenakan jilbab

Lalu berkata lagi, "Ummi, Abullah (Abdullah)"

Terus saya menunjuk ke anak perempuan berponi yang tak berjilbab, "Ini siapa?"

"Aisyah" jawabnya. 

"Terus mana Khadijah?" tanyaku lagi

"Ini" tunjuknya ke gambar anak yang berjilbab.

Cover buku yang jadi perhatian Khadijah
Saya senyum-senyum sendiri melihat imajinasi anak seusia Khadijah ini, yang menarik dia memilih anak yang berjilbab untuk mewakili karakter dirinya ^_^

Semoga istiqomah anak-anakku. Harapanku, tumbuhlah menjadi anak yang cerdas dan senantiasa haus akan ilmu yang salah satu pintunya diperoleh dengan membaca. Bacalah bacaan yang benar sehingga bisa terarahkan menjadi orang-orang yang benar, dan bukan orang yang malah tersesat dengan bacaannya.

My Dream

Ada satu mimpi yang belum terwujud saat ini, keinginan untuk membangun sebuah rumah baca. Rumah baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggal. Keinginan yang ingin kuwujudkan saat kembali ke tempat domisili di salah satu Kabupaten di Kalimantan Timur setelah suami menyelesaikan pendidikan di kota ini.

Dimana anak-anak dapat terlibat dalam mewujudkan impian itu sehingga kecintaan mereka akan membaca semakin erat. Bukan mustahil itu semua akan terwujud. 

Alhamdulillah sudah beberapa sahabat-sahabat Blogger yang telah lebih dahulu mendirikan rumah baca, sehingga lebih banyak tempat bertanya dan berdiskusi jika saatnya nanti mewujudkan impian.

Mari bersama-sama menebarkan virus cinta baca kepada sesama, dan ada baiknya dimulai dari lingkungan keluarga kita sendiri. Semoga bernilai amal jariyah.

Aaamiin Yaa Rabb...






Kamis, 15 Januari 2015

[Review Buku] Cerita Unik Binatang

Judul : Cerita Unik Binatang
Cerita : nagiga
Ilustrasi : Mega Dian Perkasa
Penerbit :  Bhuana Ilmu Populer (BIP)
ISBN 13 : 978-602-249798-1
Ukuran : 19 x 23 x 0,6 cm
Ketebalan : 104 halaman

Buku ini menjadi special karena dibeli dari hasil tabungan anak-anak saat liburan tengah semester di toko Buku Gramedia. Berisi kumpulan fabel (cerita yang menceritakan kehidupan hewan dengan perilaku manusia), tepatnya ada 25 pilihan cerita. Tiap cerita cukup ringkas yang dilengkapi dengan ilustrasi gambar yang menarik. Anak-anak suka ^_^

Yang menarik dari buku ini, anak-anak bisa mengenal lebih dekat dengan binatang yang diperankan melalui masing-masing karakter dalam cerita yang disajikan. Misalnya saja, kanguru yang memiliki kantung untuk menyimpan anak-anaknya, si udang yang membungkuk karena tidak memiliki tulang belakang, buaya yang menggendong bayi-bayinya dengan memasukkan mereka ke dalam mulutnya, proses motamorforsis kupu-kupu, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di setiap akhir cerita selalu disertai dengan kolom “Tahukah Kamu?”, berisi ringkasan pengetahuan tentang hewan yang diceritakan. Salah satu contoh isi dari kolom ini bisa dilihat dari paragraf berikut yang menjelaskan tentang binatang unta.

Tahukah kamu?
Unta adalah binatang yang hidup di padang pasir. Dia minum sangat banyak. Lalu menyimpan air di dalam punuknya. Dia bisa bertahan untuk tidak minum hingga berhari-hari selama persediaan di punuk masih ada. Punuk unta yang penuh air akan terlihat menggunung. Bila punuk tersebut sudah kempis, berarti unta harus minum dan menyimpan air lagi. Unta juga memiliki lapisan kelopak mata sebagai pelindung mata dari debu.

Contoh isi buku

Menarik bukan? Anak-anak bisa belajar melalui cerita. Bukan hanya untuk anak-anak saja, saya sendiri akhirnya memiliki tambahan pengetahuan setelah membaca buku ini.

Satu hal lagi, penampilan buku ini menarik terutama untuk anak-anak. Pemilihan warna-warna yang lembut, cover buku yang glossy, pemilihan kertas juga cukup tebal.

Insya Allah recommended sebagai tambahan koleksi buku untuk anak-anak kita.

KEB, beruntung mengenalmu!

Bisa dikatakan, saya masih seumur jagung bergabung di komunitas. Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB), lupa tepatnya tanggal berapa yang jelas baru di tahun 2014 yang lalu, diapprove oleh mak Sari Melati.

Saya mengenal KEB berawal dari berkunjung ke beberapa blog teman-teman blogger dan saya melihat beberapa diantaranya bergabung di group KEB dengan melihat banner pada sidebar masing-masing. Apalagi pada saat kehebohan pemilihan srikandi blogger, semakin menambah penasaran.

Setelah itu, tidak ragu lagi untuk mencari informasi tentang KEB, akhirnya menyempatkan diri untuk berkunjung ke websitenya. Mencari tahu apa itu KEB dan bagaimana cara bergabung di sana.

Setelah membaca dengan seksama, akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan harapan ada suntikan motivasi untuk kembali menekuni dunia blog. Semangat yang pernah menghilang cukup lama, seperti pada awal-awal mengenal dunia blog tahun 2009 dan terasa sangat sulit untuk memulai kembali.

Setelah bergabung

Awalnya saya merasa kurang PD meng-share postingan ke wall group KEB, sangat minder dengan tulisan para emak yang udah pada keren-keren, dibandingkan dengan diriku yang masih amatiran.

Namun semua kutepis, karena insya Allah saya ingin berkembang. Saya bergabung di group ini untuk lebih menikmati dunia blogger dan semua tidak akan berjalan maksimal jika terus menjadi silent reader

Alhamdulillah banyak hal yang saya dapatkan di group ini
  • Silaturrahim dengan orang-orang baru melalui blog-blog mereka.  Saya juga jadi lebih nyaman dalam blogwalking karena setiap hari selalu ada postingan baru yang menarik untuk dikunjungi yang terupdate melalui group fb maupun twitter, walau kadang tidak sempat meninggalkan jejak.
  • Termotivasi untuk meningkatkan frekuensi postingan. Dan ini sangat terasa, jauuuh berbeda dengan sebelumnya sewaktu belum mengenal KEB. Inspirasi postingan salah satunya malah muncul saat blogwalking.
  • Saling menebar inspirasi tidak hanya di dunia maya tapi juga di dunia nyata melalui program-program kopdarnya. Walaupun saya tidak pernah bertatap muka langsung melalui kegiatan-kegiatan kopdar KEB tapi serunya juga terasa walau hanya melalui postingan-postingan peserta yang mengikuti.
  • Tidak pelit ilmu. Nah, ini salah satu yang saya suka, banyak ilmu baru yang mencerahkan setelah bergabung di KEB. Apalagi setelah mengobrak-abrik file group, semakin sadar kalau diriku masih harus banyak belajar.
  • Satu lagi yang menjadikanku nyaman di komunitas ini karena semua membernya adalah perempuan. Sehingga lebih bisa lebih nyaman untuk berekspresi…

Saya merasa beruntung telah mengenal dan bergabung dengan KEB, malah sempat terpikir ‘Kok baru sekarang ya gabungnya?’ hehe..

Terkhusus para founder KEB, terima kasih atas ide mengumpulkan kami para emak blogger. Lewat perantaraan kalian, dunia emak menjadi lebih berwarna.

Buat para emak blogger, teruslah menebar inspirasi…
Salam hangat dari Makassar ^_^

Sabtu, 10 Januari 2015

Melatih Kemandirian Anak Dengan Papan Bintang

Melatih kebiasaan mandiri itu perlu, hal ini berguna untuk masa depan mereka agar tidak selalu tergantung pada orang lain. Terbiasa mandiri sejak kecil akan sangat bagus dan akan terbawa hingga mereka dewasa.

Ternyata dalam membentuk sebuah kebiasaan diperlukan waktu 90 hari yang dilakukan secara berturut-turut menurut beberapa sumber yang saya baca. Begitu pula dalam membentuk kebiasaan mandiri pada anak. Diperlukan usaha keras di 90 hari pertama.

Dalam hal ini, saya bersama anak-anak bersepakat untuk membuat papan bintang. Dengan metode reward and punishment.

Aturan yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan yang dimusyawarahkan terlebih dahulu bersama anak-anak. Agar mereka tidak ada yang merasa terpaksa dalam melakukannya karena semuanya hasil keputusan bersama. Tentu aturan yang ditetapkan disesuaikan dengan kondisi mereka, di sisi mana yang perlu diperbaiki dalam hal kemandirian mereka.

Dalam pelaksanaannya, kami menggabungkan beberapa macam aturan dalam satu papan bintang. Jadi tiap warna mewakili aturan tertentu yang sudah disepakati.

Aturan bintang yang kami sepakati,
menempel di kamar belajarnya

Apresiasi berupa Reward(penghargaan) bisa diberikan jika mencapai jumlah bintang tertentu sesuai kesepakatan, begitu pula jika mereka tidak melaksanakan aturan maka ada punishment (hukuman). Contoh yang kami terapkan, jika tidak melaksanakan aturan tersebut maka bintangnya akan dihapus/dilepas sesuai jumlah pelanggaran. Dan itu cukup mengecewakan buat mereka.

Papan bintangnya tentu sesuai kreasi masing-masing. Kalau saya menggunakan papan bintang dari kardus bekas yang dibungkus dengan kertas kalender bekas, ditambah dengan hiasan warna-warna agar tampak menarik. Tidak lupa membungkusnya dengan plastik, selain agar lebih awet juga akan lebih mudah untuk melepaskan bintangnya. Satu papan untuk masing-masing anak.

Awalnya saya membuatkan bintang-bintang dari hasil print computer, lalu tiap bintangnya ditempeli double tip. Tapi setelah dijalani ternyata cukup melelahkan, memprint, menggunting bintang kemudian menempelkan ke papan bintang.Akhirnya menjadi kendala dalam pelaksanaan.

Papan bintang dengan bintang-bintang hasil print

Akhirnya, saya berpikir untuk mengganti bintangnya dari spidol saja, jadi tiap bintang diwakili oleh warna spidolnya sesuai warna yang disepakati. Spidol Boardmaker tentunya, sehingga jika ada yang melanggar maka lebih mudah menghapusnya. Alhamdulillah It’s works.

Bintang-bintang cukup digambar saja dengan spidol warna-warni

Dalam perjalanan papan bintang, Alhamdulillah mereka enjoy dalam melakukannya, seru saja ada satu bintang dalam tiap aturan. Namun, tetap dipahamkan kepada mereka untuk tidak sekedar hanya mengejar bintang. Ada pahala dibaliknya.

Ada tiga hal yang perlu ditekankan dalam hal ini :

  • Konsistensi

Melatih kebiasaan anak, terutama di hari-hari pertama tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu niat yang kuat dan kerja keras yang tiada henti, serta  keseriusan orang tua agar anak berhasil melewatinya dengan menyenangkan. Tetapi, jangan mengharapkan hasil yang maksimal jika tanpa diiringi konsistensi dalam menjalankannya. Kuncinya di 90 hari pertama. Begitu juga perjalanan melatih kemandirian pada anak-anak, sewaktu gagal hanya bisa konsisten di 30 hari pertama maka saya harus memulai lagi dari awal.


  • Motivasi

Niatan awal dan dasar dari orang tua melatih anak mandiri perlu menjadi sandaran utama keseluruhan proses. Curahkan segalanya untuk kebaikan anak, niscaya akan mudah menjalaninya. Berikan pujian setiap anak berhasil melakukan usahanya, apapun hasilnya. Siapkan kejutan menarik di saat-saat tak terduga , karena hal itu akan memotivasinya untuk terus berlatih.

  • Teladan

Mulailah dari diri kita sendiri, karena jangan berharap orang lain berubah tanpa kita berubah terlebih dahulu. Orang tua adalah teladan bagi anak-anak, dimana setiap tindakan akan ditiru oleh mereka.
Misalnya saya, yang lemah dalam memanajemen waktu, perlu kerja keras untuk mendisiplinkan diri. Sangat berharap jika anak-anak mampu memanajemen waktu dengan baik yang berguna masa depan mereka nantinya. Dan itu saya akui sangat sulit untuk membimbing mereka kalau saya sendiri juga masih lemah dalam hal ini, dan amu tidak mau harus memulai dari diri saya sendiri.

Semoga bermanfaat ^_^



Sumber bacaan : Bunda Sayang, 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak, seri ibu profesional #1. Penerbit Gazza Media.

Senin, 05 Januari 2015

Manfaat bermain peran pada anak

Serasa baru beberapa bulan yang lalu, mainan masak-masakan kakaknya tak diacuhkan, hari ini saya melihatnya begitu menikmati peran masak-memasaknya. 

Terlihat begitu asyik menuangkan minuman dari cerek plastik kosong ke dalam gelas kosong juga dan meminumnya dengan nikmat, tidak lupa menyodorkan kepada saya untuk bersama-sama menikmati si gelas kosong...hehe

Khadijah dan permainan masak-masakannya

Begitu pula jika bermain bersama kakak-kakaknya, sekarang dia malah yang lebih dulu mengajak kakakknya untuk bermain… “Aisyah… Abullah (maksudnya Abdullah), main”.
Entahkah bermain masak-masakan, jual-jualan, ataupun sekolah-sekolahan.

Terkadang saya senyum-senyum sendiri melihat kreatifitas dan imajinasi mereka dalam bermain, misalnya saja saat bermain jual-jualan es krim dengan menggunakan bola warna warni, masing-masing warna mewakili rasa dan ditaruh di dalam gelas. ^_^

Dari beberapa sumber memang dijelaskan beberapa manfaat bermain peran untuk anak, di antaranya :

1.       Melatih kreatifitas

Tentu bermain peran seperti ini akan melatih kreatifitas anak-anak, memainkan  peran dengan menggunakan fasilitas yang seadanya. Seperti bermain es krim yang dicontohkan di atas.

2.       Membangun imajinasi

Membangun imajinasi, tidak jauh beda, kreatifitas biasanya terbangun dari sebuah imajinasi. Memainkan peran yang beraneka ragam , seperti memainkan peran yang berbeda dalam setiap waktu. Sebagai guru, anak, ibu, ayah, pedagang atau yang lainnya. Terkadang meniru karakter dari figur yang biasa mereka tonton.

3.       Sebagai sarana simulasi

Bermain peran bisa dijadikan sarana simulasi untuk anak sebelum memainkan peran yang sebenarnya. Misalnya saja sewaktu bermain masak-masakan, kita bisa memperagakan kepada mereka cara memotong bahan-bahan masakan yang benar, apalagi sekarang ada permainan buah-buahan yang sudah dalam bentuk potongan yang dipisahkan dengan perekat kain. Dan sekarang sudah begitu banyak pilihan mainan untuk latihan simulasi seperti ini, mulai dari harga murah hingg yang mahal

ambil di bukalapak.com


4.       Mengembangkan kemampuan bahasa

Dalam memainkan peran masing-masing, tentu mereka saling berdialog satu sama lain. Berdialog dengan bahasa sesuai perannya. Terlihat dengan si bungsu, kosakatanya semakin bertambah, salah satunya dengan mendengar dan terlibat percakapan dengan kakak-kakaknya.

5.       Membangun kepercayaan diri

Dengan bermain peran, anak-anak akan merasakan “sensasi” dalam memainkan karakter yang diperankannya sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dirinya.
Saya sering senyam-senyum mendengar Aisyahku yang sangat percaya diri memainkan karakter upin ipin dengan dialog “Malaysia” yang sangat fasih.. .

Semoga bermanfaat :)

Minggu, 04 Januari 2015

Menata diri, menjadi seorang ibu yang lebih baik [sebuah renungan]

Mencek kembali folder-folder data pada komputer, memilih mana yang sudah layak delete. Akhirnya tiba pada folder postingan blog, ternyata ada sebagian yang mengendap menjadi draft dan belum sempat terposting. Di antaranya postingan tentang hasil renunganku, kalau tidak salah postingan ini saya buat setahun yang lalu.

===

Teringat kurang lebih 6 tahun yang lalu saat melahirkan anak pertamaku. Hal-hal yang berhubungan dengan dunia parenting menjadi sesuatu yang menarik, berbagai referensi, browsing sana sini mencari informasi bagaimana seni mendidik anak, tentu karena berharap ingin memberi yang terbaik..

Alhamdulillah, saya begitu menikmati saat bersama si kecil, bermain sekaligus menjadi guru buat sulungku waktu itu. Hingga terpikir untuk membuat buku-buku yang terbuat dari kardus sebagai sarana belajarnya, membuat flashcard-flashcard sederhana yang akhirnya memotivasinya untuk mulai belajar membaca, mengenal angka hingga warna.

Terbayang semangatku saat itu, setiap hari adaaa saja ide yang bermunculan. Semangat untuk mempelajari ilmu parenting pun apalagi.

Tapi belakang ini, terasa memang ada yang sedikit berbeda.  Semuanya berlalu mengalir begitu saja. Anak-anak juga sudah mulai bersekolah, yang kupikirkan hanya menyiapkan kebutuhan makanan, pakaian serta istirahat saja. Lalu membiarkan mereka melakukan apa saja, entah mewarnai, menulis ataupun bermain sesuka hati.

Sekilas mungkin tidak ada yang salah, tapi sekarang saya baru betul-betul menyadari bahwa ternyata memang ada yang salah…

Semangat untuk lebih berpikir tentang anak-anakku itu seakan-akan mulai redup, jarang lagi mengupdate informasi seputar parenting, ketidakjelasan visi dan misi pendidikan mereka…
Kami hanya berpikir sederhana, sekolahkan mereka, sambil kita hanya “membantu” pekerjaan guru-guru mereka saja dengan mengulang pelajaran sekolahnya karena berpikir sedikitnya waktu bersama mereka. Yang kami betul-betul pikirkan bagaimana biaya sekolah mereka…  astaghfirullaah.. sesederhana itukah??

Mungkin karena sedikit terlena dengan kesibukan baru semenjak menetap di Makassar, mengelola sebuah online shop. Terlalu sibuk berpikir keuntungan sana-sini, produk apa yang menarik untuk dijual, bagaimana usaha mempromosikan olshop kami tersebut…

Kesibukan kedua, sibuk mengejar keinginan untuk menjadi penulis, sibuk ngeblog, ikut kontes menulis sana dan sini. Walau sekarang intensitas itu juga sudah mulai berkurang…

Saya betul-betul lupa, atau hampir tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang tertinggal, yakni memperhatikan kembali anak-anakku. Biar bagaimanapun seorang ibu adalah madrasah yang paling utama bagi anak-anak dan yang di luar sana hanyalah penunjang…

Alhamdulillah, saya termotivasi kembali oleh seorang sahabat yang kami dipertemukan kembali di dunia maya. Motivasi itu datang bukan Karena dia sering member kata-kata nasehat tapi saya tersentil dengan kesibukannya sekarang fokus dengan anak-anaknya… menjadikan diri dan suaminya untuk menjadi GURU UTAMA bagi anak-anaknya.. dan setelah digali, subhanallah pemahamannya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan dunia parenting. Di mana saya?? Oh, rupanya saya mendapati diriku sudah jauh tertinggal….

Dari sahabatku inilah, motivasi itu muncul. Saya segera memulai untuk mencari sumber-sumber referensi untuk kembali menggiati belajar.

===

Dan kini…
Alhamdulillah, saya sudah terbangun, sudah mulai kembali menata segala sesuatunya. Bahwa keluarga dan anak-anak itu yang menjadi tanggung jawab utamaku.

Mereka permata hatiku

Bukan berarti hal lain saya tinggalkan, baik online shop dan blogging. Namun selalu memilah mana yang lebih prioritas, mengatur jadwal sebaik mungkin agar semua berjalan lebih maksimal. Dan boleh jadi dunia blog menjadi sumber inspirasi, blog walking ke postingan teman-teman blogger yang juga menggeluti dunia yang sama. Dan saya bisa merasakan itu.

Selalu berdo’a, semoga senantiasa diberikan keikhlasan dan kekuatan dalam memikul amanah sebagai seorang isteri sekaligus ibu.
Amanah yang sejatinya tidak mudah, yang kelak akan dipertanggungjawabkan…
Amanah yang saya selalu meyakininya akan berbuah syurga. Tentu jika sesuai dengan jalan-Nya…