Minggu, 04 Januari 2015

Menata diri, menjadi seorang ibu yang lebih baik [sebuah renungan]

Mencek kembali folder-folder data pada komputer, memilih mana yang sudah layak delete. Akhirnya tiba pada folder postingan blog, ternyata ada sebagian yang mengendap menjadi draft dan belum sempat terposting. Di antaranya postingan tentang hasil renunganku, kalau tidak salah postingan ini saya buat setahun yang lalu.

===

Teringat kurang lebih 6 tahun yang lalu saat melahirkan anak pertamaku. Hal-hal yang berhubungan dengan dunia parenting menjadi sesuatu yang menarik, berbagai referensi, browsing sana sini mencari informasi bagaimana seni mendidik anak, tentu karena berharap ingin memberi yang terbaik..

Alhamdulillah, saya begitu menikmati saat bersama si kecil, bermain sekaligus menjadi guru buat sulungku waktu itu. Hingga terpikir untuk membuat buku-buku yang terbuat dari kardus sebagai sarana belajarnya, membuat flashcard-flashcard sederhana yang akhirnya memotivasinya untuk mulai belajar membaca, mengenal angka hingga warna.

Terbayang semangatku saat itu, setiap hari adaaa saja ide yang bermunculan. Semangat untuk mempelajari ilmu parenting pun apalagi.

Tapi belakang ini, terasa memang ada yang sedikit berbeda.  Semuanya berlalu mengalir begitu saja. Anak-anak juga sudah mulai bersekolah, yang kupikirkan hanya menyiapkan kebutuhan makanan, pakaian serta istirahat saja. Lalu membiarkan mereka melakukan apa saja, entah mewarnai, menulis ataupun bermain sesuka hati.

Sekilas mungkin tidak ada yang salah, tapi sekarang saya baru betul-betul menyadari bahwa ternyata memang ada yang salah…

Semangat untuk lebih berpikir tentang anak-anakku itu seakan-akan mulai redup, jarang lagi mengupdate informasi seputar parenting, ketidakjelasan visi dan misi pendidikan mereka…
Kami hanya berpikir sederhana, sekolahkan mereka, sambil kita hanya “membantu” pekerjaan guru-guru mereka saja dengan mengulang pelajaran sekolahnya karena berpikir sedikitnya waktu bersama mereka. Yang kami betul-betul pikirkan bagaimana biaya sekolah mereka…  astaghfirullaah.. sesederhana itukah??

Mungkin karena sedikit terlena dengan kesibukan baru semenjak menetap di Makassar, mengelola sebuah online shop. Terlalu sibuk berpikir keuntungan sana-sini, produk apa yang menarik untuk dijual, bagaimana usaha mempromosikan olshop kami tersebut…

Kesibukan kedua, sibuk mengejar keinginan untuk menjadi penulis, sibuk ngeblog, ikut kontes menulis sana dan sini. Walau sekarang intensitas itu juga sudah mulai berkurang…

Saya betul-betul lupa, atau hampir tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang tertinggal, yakni memperhatikan kembali anak-anakku. Biar bagaimanapun seorang ibu adalah madrasah yang paling utama bagi anak-anak dan yang di luar sana hanyalah penunjang…

Alhamdulillah, saya termotivasi kembali oleh seorang sahabat yang kami dipertemukan kembali di dunia maya. Motivasi itu datang bukan Karena dia sering member kata-kata nasehat tapi saya tersentil dengan kesibukannya sekarang fokus dengan anak-anaknya… menjadikan diri dan suaminya untuk menjadi GURU UTAMA bagi anak-anaknya.. dan setelah digali, subhanallah pemahamannya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan dunia parenting. Di mana saya?? Oh, rupanya saya mendapati diriku sudah jauh tertinggal….

Dari sahabatku inilah, motivasi itu muncul. Saya segera memulai untuk mencari sumber-sumber referensi untuk kembali menggiati belajar.

===

Dan kini…
Alhamdulillah, saya sudah terbangun, sudah mulai kembali menata segala sesuatunya. Bahwa keluarga dan anak-anak itu yang menjadi tanggung jawab utamaku.

Mereka permata hatiku

Bukan berarti hal lain saya tinggalkan, baik online shop dan blogging. Namun selalu memilah mana yang lebih prioritas, mengatur jadwal sebaik mungkin agar semua berjalan lebih maksimal. Dan boleh jadi dunia blog menjadi sumber inspirasi, blog walking ke postingan teman-teman blogger yang juga menggeluti dunia yang sama. Dan saya bisa merasakan itu.

Selalu berdo’a, semoga senantiasa diberikan keikhlasan dan kekuatan dalam memikul amanah sebagai seorang isteri sekaligus ibu.
Amanah yang sejatinya tidak mudah, yang kelak akan dipertanggungjawabkan…
Amanah yang saya selalu meyakininya akan berbuah syurga. Tentu jika sesuai dengan jalan-Nya…




4 komentar :

  1. menjadi seorang istri dan ibu memang tidak mudah ya mba, kita harus terus belajar dan belajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak, segala sesuatu butuh ilmu

      Hapus
  2. Ngena banget deh bacanya. Menjadi ibu harus apdet ilmu,kalo gak bakal ketinggalan jauuh ya mbak..

    BalasHapus

Syukron telah membaca postingan kami, silahkan meninggalkan komentar ^_^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...