Minggu, 26 Februari 2017

Learn, how to learn


Saya suka belajar, sedari dulu saya sasngat suka belajar. Mungkin karena sejak kecil, kami dibebaskan untuk berproses secara mandiri, orang tua saya sangat jarang menginterferensi cara belajar kami dan tidak begitu banyak menuntut. Dari dulu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan akhirnya memiliki metode belajar yang terpola dengan sendirinya.

Benar kata bunda septi, dari dulu kita terbiasa untuk menghafal materi. Dalam proses belajar tersebut, sebelum menghafalkan materi tertentu harus betul-betul dipahami terlebih dahulu sehingga lebih mudah menghafalkannya. Salah satu mata pelajaran yang sangat saya sukai dan berbinar-binar mempelajarinya yakni matematika. Lebih memilih untuk mengerjakan seabrek tugas matematika yang seabrek-abrek  dibanding diberi soal karangan bahasa Indonesia walau hanya satu halaman, haha... baru sadar sekarang akan pentingnya kegiatan menulis yang menjadi salah satu bagian dari pelajaran bahasa Indonesia ini.  

Dalam memilih fakultas ataupun jurusan, yang menjadi pertimbangan pertama adalah apakah fakultas atau jurusan tersebut sesuai minat dan bakat saya. Sangat kurang setuju dengan  pendapat sebagian orang yang memilih fakultas ataupun jurusan berdasarkan banyak atau sedikitnya jumlah peminat fakultas atau jurusan tersebut.Prinsip saya, saya nantinya yang akan menjalani, kebayang saya harus bergelut dengan ilmu yang bukan merupakan minat/ataupun bakat saya. Namun tetap sebagai insan beragama, kita tidak memungkiri takdir Allah, bahwa semua berjalan berdasarkan kehendakNya,fakultas/jurusan apapun yang nantinya ditakdirkan untuk kita jalani in syaa Allah yang terbaik. Kita hanya bisa berikhtiar dan tawakkal kepada Allah akan hasilnya.

Jujur, salah satu keinginan dari dulu yang memotivasi dalam belajar adalah ingin mendapatkan nilai yang baik dari hasil pembelajaran. Klo di perguruan tinggi tentuingin mendapatkan IPK yang tinggi. 

Namun seiring waktu, saat kita sudah menentukan peran masing-masing dalam kehidupan, semakin jelas kemana arah pembelajaran kita, apa tujuan yang ingin kita dapatkan dari proses belajar tersebut. Menuntut ilmu karena merasa ilmu tersebut merupakan kebutuhan dan rasa ingin tahu. Terutama saya sebagai ibu rumah tangga, tentu mencari ilmu bukan lagi untuk mengejar nilai ataupun sertifikat, dan faktanya ilmu itu in syaa Allah terasa lebih bermanfaat, karena kita betul-betul menginginkan isinya untuk dikejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan alhamdulillah dalam beberapa pekan mengikuti kuliah matrikulasi ibu profesional, lebih bisa menentukan skala prioritas dalam menuntut ilmu.

Ada beberapa metode yang saya terapkan dalam proses pembelajaran :
  • Meluangkan waktu dan memanfaatkan waktu luang. Harus ada jadwal belajar dan pandai-pandai memanfaatkan waktu luang, menjadikan “me time” salah satunya untuk belajar.

  • Banyak membaca, dan memang akan sangat berat kalau kita tidak suka membaca. Jangan bermimpi kita akan bisa menargetkan untuk membaca beberapa buku kalau pada dasarnya kita tidak memilik keinginan untuk membaca. Maka dari itu, hal ini menjadi perhatian yang kami terapkan kepada anak-anak. Kami memang lebih cepat menstimulan anak-anak dalam membaca, terlepas dari kontofersi yang ada, begitu banyak hal yang positif yang kami dapatkan saat mereka sudah pandai membaca di usia dini, dan ini kami terapkan dari anak pertama hingga anak ketiga dan in syaa Allah kami akan terapkan untuk anak berikutnya. Namun intinya, stimulan mereka dengan cinta, sebelum mengajarkan mereka untuk pandai membaca, kenalkan mereka terlebih dahulu pada buku, bahwa buku adalah hal yang menarik, tumbuhkan keingin tahuan mereka akan buku. Misalnya saja, dengan sering membacakan buku sebelum tidur, hampir sebelum jam tidur anak-anak saya akan membacakan buku untuk mereka, memperkenalkan buku memang dari usia sebelum 1 tahun.

Bagi saya, pandai membaca saja tidak cukup, karena pointnya adalah bagaimana menjadikan mereka suka membaca dan alhamdulillah semua anak-anak sangat suka membaca tanpa disuruh dan tidak hanya sebatas buku pelajarannya saja. Jika ada kesempatan untuk masuk ke pusat perbelanjaan, tempat yang pertama yang kami tuju adalah toko buku, satu cara untuk mengajak anak-anak mencintai buku dan alhamdulillah efektif. Apalagi buku itu dibeli dari hasil tabungan mereka. Tentang metode membaca, sudah saya bahas sangat banyak di blog ini termasuk pada postingan di artikel ini. Dan selanjutnya mengarahkan mereka untuk selektif dalam memilih bacaan karena pada hari ini begitu banyak orang-orang cerdas yang memiliki pemikiran nyeleneh salah satunya karena salah memilih bacaan.

  • Menuliskan kembali ilmu yang didapatkan, dengan mencatat alhamdulillah sebagai salah satu sarana mengikat ilmu.  

  • Mengamalkan/mempraktekkan ilmu yang diperoleh, tidak sekedar menjadikannya sebagai tumpukan catatan. Mengamalkan ilmu juga merupakan salah satu cara untuk mengikat ilmu. Dan ini saya terapkan termasuk ke anak-anak, misalnya mengajarkan mereka do’a sehari-hari tidak dengan sengaja menyuruh mereka menghafal satu persatu do’a tersebut namun dengan membacakan mereka setiap melakukan ‘amalan yang berkaitan dengan do’a tersebut. Sebelum makan, menuntun mereka membaca basmalah, masuk kamar mandi menuntun mereka membaca do’a masuk kamar mandi dan lainnya. Begitu seterusnya, pembiasaan yang akhirnya secara tidak langsung menghafalkan do’a-do’a tersebut. Begitu juga dengan menghafal Al-Qur’an, saya ingat sewaktu Abdullah masih berusia sekitar 2 tahun, sangat senang mendengar murattal dari handphone kami dan dia sendiri yang mengulang-ulangnya hingga hafal, jika berkendaraan kami senantiasa mengulang-ulang hafalan Al Qur’an sehingga dengan sendirinya terbiasa menghafal AlQur’an dan memperlihatkan bahwa menghafal AlQur’an itu adalah hal yang menyenangkan, bukan malah menjadikan beban. Allah tidak menilai kita dengan seberapa banyak ilmu yang kita miliki namun sejauh mana kita mengamalkan ilmu yang kita dapatkan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Rasul-Nya.

  • Mengajarkannya. Dan ini penting untuk kita lebih mendalami ilmu tersebut, contoh saja, dulu saya sangat sulit mengingat beberapa teori ilmu tajwid sampai saya berusaha mengajarkannya dan ternyata teori-teori itu memang lebih melekat dengan mengajarkannya. Dan yakinlah bahwa ilmu itu tidak akan berkurang dengan dibagi ke orang lain malah in syaa Allah semakin menambah perbendaharaan ilmu yang kita miliki.

  • Membuat resensi buku melalui blog, ini juga menjadi salah satu motivasi saya untuk mendalami sebuah buku

  • Salah satu hal yang juga mempengaruhi pembelajaran yakni lingkungan yang nyaman, tentu sangat berbeda kalau kita belajar di tempat yang bising dari pada di lingkungan alam yang sejuk. Jadi sekali-kali kita refreshing dalam menuntut ilmu. Termasuk misalnya kalau belajar indoor, di kamar misalnya, kondiisi kamar dalam keadaan tertata rapi. Dulu sebelum saya ingin memulai belajar, hal yang pertama yang saya lakukan adalah menata kamar agar terlihat rapi terlebih dahulu sebelum bergelut dengan buku-buku pelajaran.

  • Yang terakhir dan pertama sebenarnya adalah meluruskan niat. Ada perkataan yang indah dari seorang ulama Al Imam Ad Daruquthni “Dahulu kami menuntut ilmu bukan karena Allah, namun ternyata ilmu itu enggan kecuali jika dituntut karena Allah semata.

Dalam mendampingi proses belajar anak-anak, saya selalu berpikir bahwa semua harus dijalani dengan fun,  tidak ada paksaan untuk mereka dalam belajar, berusaha menanamkan bahwa belajar merupakan kebutuhan dan hal yang mereka sukai. Walau dibeberapa kesempatan saya kadang ngomel-ngomel (kebiasaan emak-emak hahaha) tapi saya akan berusaha semampunya untuk tidak marah dalam proses belajar. Sehingga mereka tidak pernah merasa terbebani dalam belajar, tidak merasa tertekan dan terlihat mereka selalu berbinar-binar dalam proses belajar. Tentu itu bukan hasil yang diperoleh secara instan, menjadikan anak suka belajar melalui proses yang panjang dan yang paling penting kita sebagai orang tua menjalani semua ini dengan suasana hati yang menyenangkan. Dan terus menjadi contoh buat mereka, bahwa tidak ada kata berhenti dalam belajar meski di usia-usia seperti ini. Termasuk saat mengerjakan NHW ini...mereka sudah pada paham, umminya sedang belajar ^_^




Sabtu, 18 Februari 2017

Mendidik dengan kekuatan fitrah

Tidak terasa, sekarang kami sudah berada di pekan ke-4 program matrikulasi Ibu Profesional. Pada nice home work kali ini, kami kembali diajak merenung dengan menjawab beberapa pertanyaan dari tim matrikulasi :

Apakah masih tetap ingin konsisten dengan ilmu yang dipilih pada NHW pertama ataukah ingin merubahnya?

 

Saya memilih untuk tetap di sini memantapkan hati untuk fokus pada ilmu mengenai pendidikan ibu dan anak, bagaimana menjadi isteri yang baik dan ibu yang baik bagi anak-anak sesuai dengan Al Qur’an dan Assunnah, hal yang mungkin kurang saya tegaskan pada NHW pertama. Karena bagi saya, ilmu ini merupakan ilmu yang paling penting dalam menjalani universitas kehidupan. Ilmu yang sangat mendasar, sebelum memfokuskan diri dengan ilmu yang lainnya. Jika kita sebagai seorang wanita yang memiliki peran sebagai seorang isteri sekaligus sebagai seorang ibu maka seyogianya hal ini merupakan prioritas pertama, memperkokoh tatanan keluarga sebelum memfokuskan diri  ke yang lainnya.

Sebenarnya, ilmu tentang mendidik bukan hal yang baru buat saya. Sebelum saya memasuki jenjang pernikahan, saya sudah sangat tertarik dengan ilmu tentang mendidik anak. Sangat bersemangat membaca berbagai referensi mengenai pendidikan anak. Hingga saya menyandang gelar sebagai seorang ibu pertama kalinya, semangat untuk menjadi ibu yang baik semakin besar, saya begitu menikmati ilmu ini, mencari berbagai referensi, menerapkan satu demi satu yang saya pelajari. Alhamdulillah Allah menakdirkan saya untuk fokus pada anak pertama. Dan sesuai pengalaman lebih mudah penerapannya pada adik-adiknya.

Namun seiring waktu, anak-anak tumbuh semakin besar. Si sulung sudah berusia 9 tahun. Tanpa sadar saat ini fokus sudah mulai terbagi, sempat menjejaki dunia bisnis dengan mengelola sebuah online shop, dan dua tahun terakhir ini bergelut dengan ilmu-ilmu yang berkaitan profesi sebagai seorang da’iyah, menggeluti ilmu bahasa Arab, tajwid dan lainnya. Saya baru sadar, ilmu yang berhubungan dengan pendidikan anak mulai terlalaikan, sampai saya mengikuti program matrikulasi ini, membangunkan saya untuk kembali fokus ke anak-anak. Saya sadar pekerjaan belum selesai, masih banyak hal yang masih perlu dibenahi. Ingin kembali dari awal, memperbaiki kekurangan yang ada. Dan kembali menentukan skala prioritas. Memutuskan untuk berhenti sejenak dari dunia bisnis, in syaa Allah akan memulai kembali di saat yang tepat, walaupun sudah banyak tawaran di luar sana.

Ilmu diniyah in syaa Allah sebagai penopang bagi saya untuk mendidik anak-anak dan meningkatkan kualitas pribadi, karena kita tetap membutuhkan pondasi yang jelas dalam mendidik anak-anak. Dan saya yakin tidak akan tumpang tindih selama kita bisa menentukan skala prioritas.

Melihat Nice home work #2 apakah sudah belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checkliist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita


Checklist yang dibuat pada NHW 2 yang lalu mengajarkan saya untuk konsisten yang dimulai dari hal-hal yang sederhana, dan ternyata menjalaninya tidak semudah yang dikira, perlu mujahadah (semangat) yang besar. Merevisi kembali hal-hal yang kelihatan masih belum terukur dan masih terkesan umum. Namun tidak sempat mengupload hasil revisinya. Sampai 2 pekan ini belum bisa sepenuhnya untuk konsisten, tapi in syaa Allah masih terus berusaha semaksimal mungkin.

Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang kira-kira apa maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini ? kalau sudah maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai.

Secara tidak langsung saya sebenarnya memiliki misi pribadi, sejak dari SMA saya aktif mengikuti kegiatan pengajian. Setelah memasuki gerbang perkuliahan mulai aktif dalam kegiatan keagamaan dan menjadi pengurus salah satu UKM di universitas yang bergerak dalam bidang keagamaan. Sebagai seorang da’iyah (karena sejatinya setiap kita adalah seorang da’i) yang mengisi halaqah-halaqah kecil di kampus dan kegiatan dakwah lainnya. Saya begitu menikmati peran itu hingga saya memasuki jenjang pernikahan, dipertemukan dengan lelaki yang pada dasarnya memiliki visi yang sama. Senang menebar kebaikan kepada sesama, senang berinteraksi (bersosialisasi) dengan masyarakat dan merasa sedih melihat masyarakat yang jauh dari agama ini. Mampu beradaptasi dengan cepat di lingkungan yang baru.

Saya tetap menjalani misi ini dan tentunya ini dimulai dari keluarga, memperkuat pondasi dari dalam rumah. Melibatkan anak-anak dalam menjalani dinamika dakwah, menstimulasi mereka untuk senantiasa bisa bermanfaat bagi orang lain dengan terlebih dahulu memperbaiki kualitas pribadi. Senantiasa menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan.

Setelah menjalani kehidupan berumah tangga, menyadari akan pentingnya peran sebagai seorang ibu sehingga ingin memaksimalkan peran ini, berusaha profesional di dalamnya, dan menjadikan salah satu fokus yang didakwahkan yakni menyadarkan kaum hawa akan vitalnya peran sebagai seorang ibu dalam membangun peradaban yang dimulai dari keluarga.

Dan saya sadar bahwa peran saya dimuka bumi ini adalah sebagai seorang da’iyah, yang senantiasa menebar kebaikan kepada sesama dan berusaha mendekatkan masyarakat pada agama ini.

Misi hidup : Menebar kebaikan pada sesama, mendekatkan masyarakat kepada agama berdasarkan Al Qur’an dan Assunnah serta mendidik generasi Qur’ani.

Bidang : Agama serta Pendidikan ibu dan anak


Peran : da’iyah

Ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalani misi hidup tersebut

  1. Ilmu diniyah sesuai Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar sebagai pondasi
  2. Ilmu dasar ibu profesional (Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Sholehah)
  3. Ilmu kepenulisan 
  4.  Ilmu yang berhubungan dengan publik speaking
  5. Psikologi Islam
  6. Bahasa Arab
  7. Ilmu tajwid

Tetapkan milestone perjalanan anda menjalankan misi hidup

Saya memulai KM0 saya saat pertama kali diamanahkan  oleh Allah dalam mendidik anak yakni pada usia kurang lebih 25 tahun.

KM0 – KM4 (2008 – 2012) : Bunda sayang

KM5 – KM6 (2012– 2013) : Bisnis rumahan (online shop)

KM 6 – KM7 (2013 – 2016) : Fokus meningkatkan tsaqofah keislaman terkhusus bekal sebagai seorang da’iyah.

KM 7 – KM 8 (2016 – 2017) : Kembali fokus Bunda Sayang membenahi kekurangan dalam mendidik anak (terlebih dalam hal komunikasi produktif dan pengelolaan emosi), tetap menambah tsaqofah keislaman.

KM 8 – KM 9 ( 2017 – 2018) : Menguasai Bunda Cekatan, tetap menambah tsaqofah keislaman

KM 9 – KM 10 (2018 – 2019) : Menguasai Bunda Produktif, mulai memasuki ranah bisnis.

KM 10 – KM 11 (2019 – 2020) : Menguasai Bunda sholehah

KM 11 – KM 15 (2020 – 2024) : Fokus menjadi da'iyah profesional

KM 15 – dst  (2024 – dst) : Tetap meniti jalan dakwah in syaa Allah

Selanjutnya ... Bismillah... Lakukan... lakukan... lakukan...

Man jadda wa jada...

Semoga Allah meridhohi setiap milestone kehidupan ini, dan senantiasa meluruskan niat agar semua bernilai ibadah sebagai washilah menggapai rahmat-Nya.

Di Bumi Paser, Kaltim
Ummu Abdillah Sri Muliana

Sabtu, 11 Februari 2017

Membangun peradaban dari dalam rumah

Nice home work matrikulasi Ibu Profesional kali ini membuat saya berpikir keras di setap tantangan yang diberikan. Tantangan pertama membuat surat cinta... ahhaayyy...

Betul-betul bingung harus memulai dari mana, karena saya termasuk sering menumpahkan banyak hal ke suami. Tapi tetap berusaha dan bismillah...

Akhirnya, surat yang mungkin terbilang cukup singkat akhirnya selesai juga, dengan senyum dan mata berkaca-kaca. In syaa Allah dari hati. Isi suratnya sudah saya posting lebih dulu di sini. 

Dan surat ini kukirimkan melalui email, dengan terlebih dahulu mengirimkan pesan via WA, “baca emailku, ada sesuatu yang kukirimkan”. Kurang lebih isinya seperti itu...

Saat saya mengirim, kebetulan beliau berada di masjid. Dan setelah masuk ke kamar, kalimat pertama yang dia katakan “Uhibbuki fillah... terharu”... saya hanya bisa tersipu, dan menimpali “in syaa Allah dari hati” ..ehm..ehm...

Tantangan berikutnya,kami dminta untuk menuliskan poensi dan kekuatan anak-anak lalu potensi kekuatan pribadi. Dan saya mencoba menuliskannya satu persatu :

Andi Abdullah bin hasyim (Abdullah, 9 tahun)
  • Cerdas, alhamdulillah di usia 3 tahun sudah pandai membaca, dan dia sanggup menyelesaikan beberapa buku bacaan dalam sekali duduk. Menjadi qudwah untuk adik-adiknya.
  • Kuat dalam menghafal.
  • Kritis, sering bertanya hal-hal yang belum sesuai dengan pikirannya.
  • Kreatif, contoh hal-hal yang sederhana dalam menyusun lego, terkadang terheran-heran dengan hasil buatannya sendiri.
  • Suka menggambar hal-hal yang berbau eksak, serba pakai penggaris, hehe. Kadang saya memotivasi kalau dia berbakat menjadi seorang arsitektur.
  • Sangat suka matematika.
  • Alhamdulillah kelihatan Abdullah sudah mumayyiz, sudah tidak diingatkan tentang waktu shalat, shalat sudah tidak bermain-main layaknya orang dewasa.
  • Rasa ingin tahu yang tinggi. Tidak bosan mempertanyakan hal-hal yang baru.
  • Senang dengan pekerjaan lelaki. Otomotif, pertukangan dan lainnya. Sangat suka mendampingi ayahnya dalam setiap pekerjaan yang berhubungan dengan hal itu.
  • Tidak ikut-ikutan dengan hal-hal yang berbau materi.

Andi Aisyah hasyim (Aisyah, 8 tahun)
  • Cerdas
  • Tidak malu untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan
  • Mudah tersentuh, mungkin karena dia adalah anak perempuan
  • Sudah mulai muncul naluri keibuannya, telaten dalam mengurus adik-adiknya.
  • Suka membaca, sama seperti kakaknya, pandai membaca juga di usia 3 tahun dan mampu menyelesaikan beberapa waktu dalam satu waktu.
  • Kritis dan rasa ingin tahu yang tinggi. Sering bertanya terutama hal-hal yang susah dia mengerti dan hal-hal yang baru.
  • Sangat suka menggambar, dan menariknya selalu memberi cerita pada gambarnya.
  • Suka menulis, untuk itu saya sengaja membelikan dia sebuah buku untuk dia bisa menuliskan.
  • Hafalannya kuat dan memiliki irama yang indah dalam melanjutkan ayat suci Al Qur’an.
  • Memiliki karakter yang keras, semoga menjadi sifat dasar seorang pemimpin. Dalam permainan pun, aisyah banyak mengarahkan permainan.
  • Dulunya dia sangat sulit untuk masuk ke lingkungan yang baru, namun alhamdulillah seiring waktu dia menjadi anak yang mudah bersosialisasi.
  • Skill kewanitaan sudah mulai muncul, sesekali membantu saya di dapur, membersihkan rumah, melipat dan merapikan pakaiannya sendiri.
  • Mulai sadar akan pentingnya shalat 5 waktu.

Andi Khadijah Hasyim (Khadijah, 4 tahun)
  • Cerdas, sama seperti kakak-kakaknya mampu membaca di usia 3 tahun, saat ini di usianya yang memasuki usia 4 tahun, sudah sangat senang membaca, bukunya di bawa kemana-mana.
  • Hafalannya kuat.
  • Sangat cepat fasih dalam pengucapan. Dalam mengaji sangat mudah mengarahkan tajwidnya.
  • Memiliki karakter pemimpin, dalam permainan dia yang mengarahkan teman-temannya.
  • Penyayang terhadap adiknya yang berusia 3 bulan. Kekhawatiran bahwa dia nantinya akan cemburu pada saat adiknya lahir ternyata tidak terbukti.
  • Mudah meminta maaf jika ada kesalahannya.
  • Rasa ingin tahu yang tinggi. Terutama jika mendapatkan hal-hal yang baru

Andi Fatimah Hasyim (Fatimah, 4 bulan)
  • Mulai bubling, ngoceh nda jelas hehe...
  • Sudah mulai berusaha untuk tengkurap.
  • Aktif, alhamdulillah.

Kekuatan potensi diri :
  • Cerdas, mudah memahami sesuatu
  • Suka membaca.
  • Sangat suka belajar, sampai saat ini masih semangat untuk belajar dan masih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
  • Memiliki bakat administrasi dan managerial. Hanya butuh lebih mengasah konsistensi.
  • Mudah bersosialisasi.
  • Hanif, memiliki modal pemahaman agama yang  baik in syaa Allah.
  • Suka dengan tantangan.
  • Berpikir solutif. Alhamdulillah, di tengah-tengah keluarga, pendapat saya cenderung didengar, mulai dari orang tua dan saudara-saudara.
  • Suka membersihkan dan merapikan.
  • Memiliki jiwa seni.
  • Cenderung berpikir positif.
  • Cukup menguasai teknologi.

Alhamdulillah, setelah menulis satu persatu kekuatan dan potensi diri, ternyata Allah memberi potensi yang luar biasa pada saya. Nikmat yang harus selalu saya syukuri. Dan dengan potensi yang saya miliki itu merupakan kekuatan yang saya miliki dalam menjalani kehidupan sebagai isteri dan modal yang sangat besar dalam mendidik anak-anak, sehingga menjadi anak-anak dengan potensi yang luar biasa dan tentu tidak terlepas dari pertolongan Allah. Dengan potensi itu, saat ini masih mampu berdiri tegar mendampingi suami dengan kesibukannya sebagai seorang dokter, dan membangun komunikasi yang baik terutama dalam mendidik anak-anak. 

Menoleh ke  lingkungan sekitar. 


Alhamdulillah, selama memasuki jenjang pernikahan, kami sudah berpindah dari dari satu daerah ke daerah yang lain, dari lingkungan satu ke lingkungan yang lain, dari satu tipe masyarakat ke tipe masyarakat yang lain. 

Di setiap daerah, kami memang selalu berusaha memperlihatkan akhlak yang baik, membalas sesuatu yang kurang baik dengan yang lebih baik, dan berusaha berbuat sesuatu untuk masyarakat sekitar. 

Tempat yang pertama, kami di daerah terpencil, dengan penduduk yang merupakan suku asli di daerah itu dengan karakter kerasnya. Namun alhamdulillah ternyata kami bisa menjalaninya, sempat membuka TPA di sana, salah satu media belajar pertama saya dalam mendidik anak-anak. Bagaimana memikirkan solusi bersama dalam setiap masalah yang dihadapi. Dan satu pelajaran yang indah, saat ada orang lain yang bersikap kurang baik kepada kita, balaslah dengan akhlak yang baik. In syaa Allah mereka akan luluh dengan sendirinya. Indah rasanya saat anak didik kita (melalui sarana TPA) mengamalkan apa yang diajarkan.

Tempat yang kedua, mulai keluar dari desa terpencil, dengan kesibukan suami yang cukup padat. Dan saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, di tengah keluarga. Tidak lagi membentuk TPA, namun hikmah yang besar, saya bisa mengerahkan segenap potensi untuk mendidik putra pertama saya di rumah, tanpa saya sadar telah melakukan aktivitas home schooling di rumah. Dan alhamdulillah, terlihat hasilnya, si sulung menjadi qudwah untuk adik-adiknya. Benar pendapat sebagian orang, bahwa maksimalkan pada anak yang pertama, in syaa Allah, pada anak kedua, ketiga dan seterusnya lebih mudah menjalaninya. Dan itu yang saya rasakan.

Dua tahun di tempat yang kedua, ikut suami lagi dalam rangka menjalani pendidikan spesialis selama 5 tahun di Makassar, memasuki kembali lingkungan yang baru, menerapkan hal-hal yang baik yang kami terapkan di lingkungan sebelumnya, terutama adab kepada tetangga serta membalas hal-hal yang kurang baik dengan yang lebih baik. Hari-hari di tempat ketiga ini kami lewati dengan menyenangkan meski tetap tak terlepas dari tantangan-tantangan.

Alhamdulillah, kembali membuka TPA di rumah, mendidik anak-anak tetangga dalam membaca Al-Qur’an, tidak hanya anak-anaknya juga ibu-ibunya. Membuka pengajian kecil-kecilan untuk ibu-ibu setempat.

Satu yang cukup berkesan adalah Abdullah yang sudah terbiasa ke masjid dalam usianya yang masih sangat kecil. Tetangga sampai terheran-heran karena saat subuh pun, Abdullah hampir tidak pernah ketinggalan bersama ayahnya menjadi jama’ah masjid. Padahal anak-anak yang lain masih dibiarkan terlelap oleh orang tuanya dengan satu alasan “tidak tega”. Bahkan, saat ayahnya harus meninggalkan kami selama beberapa bulan di luar kota, Abdullah tidak berubah, masih konsisten ke masjid termasuk saat shalat Subuh. Saat sulungku nginap di rumah neneknya, jama’ah akan mencari, di mana si kecil. Alhamdulillah, dengan kebiasaan baik yang keluarga kami perlihatkan, satu persatu tetangga mulai membawa anak-anak mereka ke masjid. Semoga menjadi amal jariah bagi keluarga kami.

Saat berbelanja, kami sebisa mungkin membeli keperluan bulanan pada warung tetangga, dengan satu alasan menjaga silaturrahmi dengan mereka. Saat baju atau sepatu anak-anak kekecilan dan masih layak pakai akan kami berikan ke tetangga yang kami anggap membutuhkan.

Alhamdulillah, kami meninggalkan makassar dengan suasana mengharu  biru, mulai dari santri beserta orang tuanya yang memberikan hadiah satu persatu, dengan kami yang terlebih dahulu memberikan kado kecil-kecilan kepada anak-anak itu. Tetangga yang sudah terbangun kedekatan satu sama lain, dan sampai saat ini sesekali mereka menelpon jika ada keperluan ataupun hanya sekedar menanyakan kabar.

Dan sekarang sudah berada di lingkungan yang baru,  di sebuah kompleks perumahan dokter spesialis. Kehidupan orang tua yang rata-rata memiliki kelebihan dalam hal materi, dan anak-anak mereka yang punya potensi untuk mendapatkan fasilitas dalam hal materi. Saat kami di sini, alhamdulillah tetap membangun “kebiasaan” lama, selalu ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat sekitar. Abdullah yang menjadi qudwah untuk anak-anak, yang awalnya anak-anak kebanyakannya hanya bermain di masjid, sudah sedikit demi sedikit berubah untuk meminimalisir bermainnya. 

Kami juga berkoordinasi dengan para orang tua, agar anak-anak lebih diarahkan untuk bermain hal-hal fisik, bersepeda, main bola, main masak-masakan (untuk anak perempuan), berenang dan yang lainnya. Dengan satu harapan, anak-anak yang terbiasa dengan gadget bisa meninggalkan kebiasannya, dan alhamdulillah terlihat. Jam 5 sore, kompleks sudah ramai dengan anak-anak yang bermain sepeda atau lainnya. Senangnyaa....

Alhamdulillah saya juga sudah membuka pengajian untuk ibu-ibu di sini, membuka kelas tahsin (perbaikan bacaan Al-Qur’an), begitu juga dengan bapak-bapaknya dengan suami sebagai pelopor.

Begitu juga dengan program-program yang kami buat untuk anak-anak, kelas bahasa Arab tiap sekali sepekan, dan yang terakhir adalah program Tahfidz on the weekend, kegiatan mengahfal Al-Qur’an di akhir pekan, sebagai sarana kegiatan positif untuk anak-anak sekitar. Keinginan kami untuk membentuk lingkungan yang baik untuk anak-anak.

Saat saya menuliskan dengan sangat panjang nice home work ini. Saya baru sadar, bahwa kami telah menjalankan satu misi sebagai agen perubah. Tinggal menanamkan kembali ke anak-anak bahwa kita dalam keluarga ini adalah satu tim, yang in syaa Allah menjadi tim yang kuat untuk menebar kebaikan di manapun kita berada.  Dengan berusaha memperbaiki kualitas dari setiap individu untuk bisa menjadi satu tim yang kuat, yang tentunya tetap berada koridor syariat Allah subhaanahu wa Ta’aala.

Man jadda wa jada