Sabtu, 11 Februari 2017

Membangun peradaban dari dalam rumah

Nice home work matrikulasi Ibu Profesional kali ini membuat saya berpikir keras di setap tantangan yang diberikan. Tantangan pertama membuat surat cinta... ahhaayyy...

Betul-betul bingung harus memulai dari mana, karena saya termasuk sering menumpahkan banyak hal ke suami. Tapi tetap berusaha dan bismillah...

Akhirnya, surat yang mungkin terbilang cukup singkat akhirnya selesai juga, dengan senyum dan mata berkaca-kaca. In syaa Allah dari hati. Isi suratnya sudah saya posting lebih dulu di sini. 

Dan surat ini kukirimkan melalui email, dengan terlebih dahulu mengirimkan pesan via WA, “baca emailku, ada sesuatu yang kukirimkan”. Kurang lebih isinya seperti itu...

Saat saya mengirim, kebetulan beliau berada di masjid. Dan setelah masuk ke kamar, kalimat pertama yang dia katakan “Uhibbuki fillah... terharu”... saya hanya bisa tersipu, dan menimpali “in syaa Allah dari hati” ..ehm..ehm...

Tantangan berikutnya,kami dminta untuk menuliskan poensi dan kekuatan anak-anak lalu potensi kekuatan pribadi. Dan saya mencoba menuliskannya satu persatu :

Andi Abdullah bin hasyim (Abdullah, 9 tahun)
  • Cerdas, alhamdulillah di usia 3 tahun sudah pandai membaca, dan dia sanggup menyelesaikan beberapa buku bacaan dalam sekali duduk. Menjadi qudwah untuk adik-adiknya.
  • Kuat dalam menghafal.
  • Kritis, sering bertanya hal-hal yang belum sesuai dengan pikirannya.
  • Kreatif, contoh hal-hal yang sederhana dalam menyusun lego, terkadang terheran-heran dengan hasil buatannya sendiri.
  • Suka menggambar hal-hal yang berbau eksak, serba pakai penggaris, hehe. Kadang saya memotivasi kalau dia berbakat menjadi seorang arsitektur.
  • Sangat suka matematika.
  • Alhamdulillah kelihatan Abdullah sudah mumayyiz, sudah tidak diingatkan tentang waktu shalat, shalat sudah tidak bermain-main layaknya orang dewasa.
  • Rasa ingin tahu yang tinggi. Tidak bosan mempertanyakan hal-hal yang baru.
  • Senang dengan pekerjaan lelaki. Otomotif, pertukangan dan lainnya. Sangat suka mendampingi ayahnya dalam setiap pekerjaan yang berhubungan dengan hal itu.
  • Tidak ikut-ikutan dengan hal-hal yang berbau materi.

Andi Aisyah hasyim (Aisyah, 8 tahun)
  • Cerdas
  • Tidak malu untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan
  • Mudah tersentuh, mungkin karena dia adalah anak perempuan
  • Sudah mulai muncul naluri keibuannya, telaten dalam mengurus adik-adiknya.
  • Suka membaca, sama seperti kakaknya, pandai membaca juga di usia 3 tahun dan mampu menyelesaikan beberapa waktu dalam satu waktu.
  • Kritis dan rasa ingin tahu yang tinggi. Sering bertanya terutama hal-hal yang susah dia mengerti dan hal-hal yang baru.
  • Sangat suka menggambar, dan menariknya selalu memberi cerita pada gambarnya.
  • Suka menulis, untuk itu saya sengaja membelikan dia sebuah buku untuk dia bisa menuliskan.
  • Hafalannya kuat dan memiliki irama yang indah dalam melanjutkan ayat suci Al Qur’an.
  • Memiliki karakter yang keras, semoga menjadi sifat dasar seorang pemimpin. Dalam permainan pun, aisyah banyak mengarahkan permainan.
  • Dulunya dia sangat sulit untuk masuk ke lingkungan yang baru, namun alhamdulillah seiring waktu dia menjadi anak yang mudah bersosialisasi.
  • Skill kewanitaan sudah mulai muncul, sesekali membantu saya di dapur, membersihkan rumah, melipat dan merapikan pakaiannya sendiri.
  • Mulai sadar akan pentingnya shalat 5 waktu.

Andi Khadijah Hasyim (Khadijah, 4 tahun)
  • Cerdas, sama seperti kakak-kakaknya mampu membaca di usia 3 tahun, saat ini di usianya yang memasuki usia 4 tahun, sudah sangat senang membaca, bukunya di bawa kemana-mana.
  • Hafalannya kuat.
  • Sangat cepat fasih dalam pengucapan. Dalam mengaji sangat mudah mengarahkan tajwidnya.
  • Memiliki karakter pemimpin, dalam permainan dia yang mengarahkan teman-temannya.
  • Penyayang terhadap adiknya yang berusia 3 bulan. Kekhawatiran bahwa dia nantinya akan cemburu pada saat adiknya lahir ternyata tidak terbukti.
  • Mudah meminta maaf jika ada kesalahannya.
  • Rasa ingin tahu yang tinggi. Terutama jika mendapatkan hal-hal yang baru

Andi Fatimah Hasyim (Fatimah, 4 bulan)
  • Mulai bubling, ngoceh nda jelas hehe...
  • Sudah mulai berusaha untuk tengkurap.
  • Aktif, alhamdulillah.

Kekuatan potensi diri :
  • Cerdas, mudah memahami sesuatu
  • Suka membaca.
  • Sangat suka belajar, sampai saat ini masih semangat untuk belajar dan masih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
  • Memiliki bakat administrasi dan managerial. Hanya butuh lebih mengasah konsistensi.
  • Mudah bersosialisasi.
  • Hanif, memiliki modal pemahaman agama yang  baik in syaa Allah.
  • Suka dengan tantangan.
  • Berpikir solutif. Alhamdulillah, di tengah-tengah keluarga, pendapat saya cenderung didengar, mulai dari orang tua dan saudara-saudara.
  • Suka membersihkan dan merapikan.
  • Memiliki jiwa seni.
  • Cenderung berpikir positif.
  • Cukup menguasai teknologi.

Alhamdulillah, setelah menulis satu persatu kekuatan dan potensi diri, ternyata Allah memberi potensi yang luar biasa pada saya. Nikmat yang harus selalu saya syukuri. Dan dengan potensi yang saya miliki itu merupakan kekuatan yang saya miliki dalam menjalani kehidupan sebagai isteri dan modal yang sangat besar dalam mendidik anak-anak, sehingga menjadi anak-anak dengan potensi yang luar biasa dan tentu tidak terlepas dari pertolongan Allah. Dengan potensi itu, saat ini masih mampu berdiri tegar mendampingi suami dengan kesibukannya sebagai seorang dokter, dan membangun komunikasi yang baik terutama dalam mendidik anak-anak. 

Menoleh ke  lingkungan sekitar. 


Alhamdulillah, selama memasuki jenjang pernikahan, kami sudah berpindah dari dari satu daerah ke daerah yang lain, dari lingkungan satu ke lingkungan yang lain, dari satu tipe masyarakat ke tipe masyarakat yang lain. 

Di setiap daerah, kami memang selalu berusaha memperlihatkan akhlak yang baik, membalas sesuatu yang kurang baik dengan yang lebih baik, dan berusaha berbuat sesuatu untuk masyarakat sekitar. 

Tempat yang pertama, kami di daerah terpencil, dengan penduduk yang merupakan suku asli di daerah itu dengan karakter kerasnya. Namun alhamdulillah ternyata kami bisa menjalaninya, sempat membuka TPA di sana, salah satu media belajar pertama saya dalam mendidik anak-anak. Bagaimana memikirkan solusi bersama dalam setiap masalah yang dihadapi. Dan satu pelajaran yang indah, saat ada orang lain yang bersikap kurang baik kepada kita, balaslah dengan akhlak yang baik. In syaa Allah mereka akan luluh dengan sendirinya. Indah rasanya saat anak didik kita (melalui sarana TPA) mengamalkan apa yang diajarkan.

Tempat yang kedua, mulai keluar dari desa terpencil, dengan kesibukan suami yang cukup padat. Dan saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, di tengah keluarga. Tidak lagi membentuk TPA, namun hikmah yang besar, saya bisa mengerahkan segenap potensi untuk mendidik putra pertama saya di rumah, tanpa saya sadar telah melakukan aktivitas home schooling di rumah. Dan alhamdulillah, terlihat hasilnya, si sulung menjadi qudwah untuk adik-adiknya. Benar pendapat sebagian orang, bahwa maksimalkan pada anak yang pertama, in syaa Allah, pada anak kedua, ketiga dan seterusnya lebih mudah menjalaninya. Dan itu yang saya rasakan.

Dua tahun di tempat yang kedua, ikut suami lagi dalam rangka menjalani pendidikan spesialis selama 5 tahun di Makassar, memasuki kembali lingkungan yang baru, menerapkan hal-hal yang baik yang kami terapkan di lingkungan sebelumnya, terutama adab kepada tetangga serta membalas hal-hal yang kurang baik dengan yang lebih baik. Hari-hari di tempat ketiga ini kami lewati dengan menyenangkan meski tetap tak terlepas dari tantangan-tantangan.

Alhamdulillah, kembali membuka TPA di rumah, mendidik anak-anak tetangga dalam membaca Al-Qur’an, tidak hanya anak-anaknya juga ibu-ibunya. Membuka pengajian kecil-kecilan untuk ibu-ibu setempat.

Satu yang cukup berkesan adalah Abdullah yang sudah terbiasa ke masjid dalam usianya yang masih sangat kecil. Tetangga sampai terheran-heran karena saat subuh pun, Abdullah hampir tidak pernah ketinggalan bersama ayahnya menjadi jama’ah masjid. Padahal anak-anak yang lain masih dibiarkan terlelap oleh orang tuanya dengan satu alasan “tidak tega”. Bahkan, saat ayahnya harus meninggalkan kami selama beberapa bulan di luar kota, Abdullah tidak berubah, masih konsisten ke masjid termasuk saat shalat Subuh. Saat sulungku nginap di rumah neneknya, jama’ah akan mencari, di mana si kecil. Alhamdulillah, dengan kebiasaan baik yang keluarga kami perlihatkan, satu persatu tetangga mulai membawa anak-anak mereka ke masjid. Semoga menjadi amal jariah bagi keluarga kami.

Saat berbelanja, kami sebisa mungkin membeli keperluan bulanan pada warung tetangga, dengan satu alasan menjaga silaturrahmi dengan mereka. Saat baju atau sepatu anak-anak kekecilan dan masih layak pakai akan kami berikan ke tetangga yang kami anggap membutuhkan.

Alhamdulillah, kami meninggalkan makassar dengan suasana mengharu  biru, mulai dari santri beserta orang tuanya yang memberikan hadiah satu persatu, dengan kami yang terlebih dahulu memberikan kado kecil-kecilan kepada anak-anak itu. Tetangga yang sudah terbangun kedekatan satu sama lain, dan sampai saat ini sesekali mereka menelpon jika ada keperluan ataupun hanya sekedar menanyakan kabar.

Dan sekarang sudah berada di lingkungan yang baru,  di sebuah kompleks perumahan dokter spesialis. Kehidupan orang tua yang rata-rata memiliki kelebihan dalam hal materi, dan anak-anak mereka yang punya potensi untuk mendapatkan fasilitas dalam hal materi. Saat kami di sini, alhamdulillah tetap membangun “kebiasaan” lama, selalu ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat sekitar. Abdullah yang menjadi qudwah untuk anak-anak, yang awalnya anak-anak kebanyakannya hanya bermain di masjid, sudah sedikit demi sedikit berubah untuk meminimalisir bermainnya. 

Kami juga berkoordinasi dengan para orang tua, agar anak-anak lebih diarahkan untuk bermain hal-hal fisik, bersepeda, main bola, main masak-masakan (untuk anak perempuan), berenang dan yang lainnya. Dengan satu harapan, anak-anak yang terbiasa dengan gadget bisa meninggalkan kebiasannya, dan alhamdulillah terlihat. Jam 5 sore, kompleks sudah ramai dengan anak-anak yang bermain sepeda atau lainnya. Senangnyaa....

Alhamdulillah saya juga sudah membuka pengajian untuk ibu-ibu di sini, membuka kelas tahsin (perbaikan bacaan Al-Qur’an), begitu juga dengan bapak-bapaknya dengan suami sebagai pelopor.

Begitu juga dengan program-program yang kami buat untuk anak-anak, kelas bahasa Arab tiap sekali sepekan, dan yang terakhir adalah program Tahfidz on the weekend, kegiatan mengahfal Al-Qur’an di akhir pekan, sebagai sarana kegiatan positif untuk anak-anak sekitar. Keinginan kami untuk membentuk lingkungan yang baik untuk anak-anak.

Saat saya menuliskan dengan sangat panjang nice home work ini. Saya baru sadar, bahwa kami telah menjalankan satu misi sebagai agen perubah. Tinggal menanamkan kembali ke anak-anak bahwa kita dalam keluarga ini adalah satu tim, yang in syaa Allah menjadi tim yang kuat untuk menebar kebaikan di manapun kita berada.  Dengan berusaha memperbaiki kualitas dari setiap individu untuk bisa menjadi satu tim yang kuat, yang tentunya tetap berada koridor syariat Allah subhaanahu wa Ta’aala.

Man jadda wa jada

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Syukron telah membaca postingan kami, silahkan meninggalkan komentar ^_^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...